Hari keduapuluhtujuh, Jumat, 25 Juli 2008. Haha...jumat ini kami berencana cabut dari Rumpin dan mengakhiri seluruh petualangan kami di LAPAN ini. Pagi ini ada wajah-wajah sumringah tapi dicampur juga wajah-wajah yang “agak” sedih. Yang terlintas dalam benak kami hari ini adalah:
ajukan laporan KP ke si bos
dapet persetujuan dari si bos
pamitan ke semua orang tidak terkecuali si emak dan si teteh yang memberi kami makanan2 lezat
packing
dan langsung cabut ke tujuan kita masing2 : Yesi menuju Jogja naik kereta dari stasiun Senen Jakarta, Ican ke rumah abangnya di Jakarta, Andi dan Diva ke terminal Pulo Gadung naik bis ke rumahnya masing2.
Eit..eit..bentar, ada yang keluapaan diceritain. Kamis malam kami berkunjung ke kantor Pak Edi Sutanta, Kasubag TU LAPAN. Kami mau pamit dan sekaligus konsultasi soal sertifikat dan penilaian KP kami. Malam-malam kami datang ke kantor pak Edi dan beliau masih di sana, BEKERJA, saudara-saudara. Bukannya tidur. Dengan ditemani seorang petugas security, beliau lembur di kantornya saat yang lain sudah pulang. Great!!
Tak disangka, kami disambut dengan sangat hangat. Mahasisawa – mahasiswa “cepete” kayak kami disambut dengan sangat baik dan diperlakukan dengan sangat profesional oleh seorang kepala bagian TU LAPAN PUSTERAPAN. Bukan cuma itu, beliau kadanga ngajak kami bercanda, ngasih tebak2an yang “gak jelas”, cerita-cerita lucu, dan ngasih kami petuah2 bijak yang menyemangati kami.
“walaupun saya hidup di gunung,jauh dari kota, saya akan bertahan. Saya akan segera menyesuaikan diri, bekerja apa saja, asal halal untuk keluarga saya...” begitu kira-kira, petuah pak Edi yang kuingat.
Lagi-lagi, GREAT!!!
Dan setelah urusan kami dengan Pak Edi Sutanta malam itu beres, kami pun pulang dengan perut kosong. Lapeeeeerrrr!!! Andi dan Ican pergi beli makan, Aku dan Diva pulang ke mess karena dah titip beli makan ma kedua cowok itu.
Oke, kembali lagi ke hari Jumat, 25 Juli 2008.
Pagi ini sebelum ke kantor, kami sempatkan untuk mengabadikan momen2 terakhir di LAPAN. Yupz.. kita foto-foto dulu. Gak tanggung2, kami minta foto bareng satpam penjaga pintu masuk komplek LAPAN. Emang pada saat itu, satpam yang manis yang lagi jaga, pucuk di cita ulam pun tiba. Hahaha...alhasil dengan senyum mas satpam yang manis dan senyum kami-kami yang gak kalah manis, dapet lah tiga kali jepret.
“Mari, Pak. Sekalian pamitan, insyaAllah besok kami dah selesai KP di sini”
Setelah puas foto2, kami melanjutkan perjalanan ke kantor. Wah, besok pasti satpam2 itu kangen ma kami, besok dah gak ada lagi mahasiswa2 keren yang lewat dan ngasih salam ke para petugas security tiap pagi. (tetep...gak narsis, gak eksis, bro....)
Sampai di kantor, ritual rutin pun berjalan:
bikin kopi/teh anget dulu,
nyalakan komputer
buka firefox dan YM
dan.....ngenet sepuasnya....
Yep, hari ini tinggal minta pengesahan dari si bos, pamit-pamit, nyerahin nilai dan minta sertifikat ke Pak Edi Sutanta, dan.........
PULANG!!!
Format penilaian dah ada, kamiminta Pak Agus dan Pak Sunar untuk memberi penilaian. Setelah masalah nilai beres, kami ke kantor Pak Edi Sutanta untuk nyerahin nilai itu, agar nantinya di tulis di sertifikat. Sekalian kami pamitan juga dengan Pak Edi Sutanta dan foto-foto lagi di deket miniatur roket. Setelah senua urusan sertifikat beres, kami menyeberangi lapangan bola untuk kembali menuju kantor. Sertifikat kami akan dikirimkan ke Jogja via pos, karena belum bisa jadi saat itu juga.
Sang itu, kami pun sudah pamitan dengan si emak dan si teteh di kantin, foto-foto lagi. Terus kami naik ke lantai 4, ke laboratorium untuk pamitan juga ma Pak Deden,dkk. Foto-foto lagi. Sebelumnya kami dah sempet juga mampir ke bengkel, pamitan dan foto-foto ma mas Suryani, pak Kumis, dan mas yang jaga kantor, yang suka banting-banting pintu untuk ngingetin kami agar keluar dari kantor saat sore.
Tapi, manusia emang cuma bisa berencana,, dan Allah yang menentukan semua kejadiannya kayak gimana.
Hari itu, seperti yang sudah diduga, si bos datang ke kantor. Setelah si bos dan staf-stafnya selesai rapat, kami mendatangi si bos dan menyerahkan laporan kami. Diluar dugaan, si bos belum terima dengan laporan kami. Menurutnya yang seharusya meriksa lapora kami bukan Pak Sunar dan Pak Agus, tapi Pak Edi Cahya dan Mas Adi. Sebenernya, si bos dah mau tanda tangan, untuk ngesahin laporan kami, tapi laporan harus diperiksa lagi oleh Pak Edi Cahya. Alhasil, laporan kami, kami serahin lagi ke Pak Edi Cahya dan revisi gak bisa selesai hari itu juga, karena beliau juga sibuk.
Ya Allah, pupus sudah harapan kami untuk bisa pulang besok. Paling gak, kami baru bisa pulang senin atau selasa. Sesaat kemudian, wajah-wajah yang tadinya sumringah, berseri-seri, berubah jadi semrawut. Semua berubah total. Jujur, masing-masing masih punya ganjelan, punya masalah. Bahkan aku sempet nanya ke Diva
“Menurut perasaanmu, kita beneran bisa selesai hari ini gak?”
Diva said “Menurutku sih enggak. Masih ada sesuatu yang ngeganjel. Tapi aku juga gak tau apa itu”
Sore itu, saat akan pulang kantor, saat sudah pasti bahwa kami gak bisa pulang sore ini atau besok, entah apa yang jadi masalahnya, timbul konflik antara Diva dan Ican. Ican marah, dia langsung cabut pulang ke mess duluan. Diva mengejarnya. Dan, hanya tersisa aku dan Andi yang masih terbengong-bengong. Ada apa sih?
Akhirnya aku dan Andi nyusul balik. Kan kunci mess Andi yang bawa, jadi walaupun Ican dan Diva dah nyampe mess duluan, mereka tetep gak bisa masuk. Sampai di mess Ican dan Diva dah nunggu di luar. Sepetinya telah terjadi pebicaraan yang cukup serius antara mereka berdua. Tapi, Ican tetep keukeuh balik ke Jakarta sore ini, dia masuk kamarnya dan langsung packing.
Sedih gak boleh berlarut-larut, selalu ada hikmah di balik semua peristiwa dan ketetapan Allah. Yang kemudian membuat kami lagi-lagi bersyukur....
To be continued.....
