welcome to my world...

yah...selamat datang di dunia ku. dunia yang kadang tidak disukai orang pada umumnya. dengan tidak mengingkari bahwa kita punya dunia masing-masing yang gak kalah seru...
fisika adalah kehidupan itu sendiri. Allah begitu jenius, sehingga kita harus bersusah payah memahami alam ini dengan fisika...
tapi karena begitu jeniusnya Allah juga, fisika terlalu indah untuk diabaikan...

Lihat Tanda2 Kebesaran Allah di sini

Kamis, 16 April 2009

FROM LAPAN WITH LOVE..Episode 14.Manusia Emang Cuma Bisa Berencana

Manusia emang cuma bisa berencana....

Hari keduapuluhtujuh, Jumat, 25 Juli 2008. Haha...jumat ini kami berencana cabut dari Rumpin dan mengakhiri seluruh petualangan kami di LAPAN ini. Pagi ini ada wajah-wajah sumringah tapi dicampur juga wajah-wajah yang “agak” sedih. Yang terlintas dalam benak kami hari ini adalah:

  1. ajukan laporan KP ke si bos

  2. dapet persetujuan dari si bos

  3. pamitan ke semua orang tidak terkecuali si emak dan si teteh yang memberi kami makanan2 lezat

  4. packing

  5. dan langsung cabut ke tujuan kita masing2 : Yesi menuju Jogja naik kereta dari stasiun Senen Jakarta, Ican ke rumah abangnya di Jakarta, Andi dan Diva ke terminal Pulo Gadung naik bis ke rumahnya masing2.

Eit..eit..bentar, ada yang keluapaan diceritain. Kamis malam kami berkunjung ke kantor Pak Edi Sutanta, Kasubag TU LAPAN. Kami mau pamit dan sekaligus konsultasi soal sertifikat dan penilaian KP kami. Malam-malam kami datang ke kantor pak Edi dan beliau masih di sana, BEKERJA, saudara-saudara. Bukannya tidur. Dengan ditemani seorang petugas security, beliau lembur di kantornya saat yang lain sudah pulang. Great!!

Tak disangka, kami disambut dengan sangat hangat. Mahasisawa – mahasiswa “cepete” kayak kami disambut dengan sangat baik dan diperlakukan dengan sangat profesional oleh seorang kepala bagian TU LAPAN PUSTERAPAN. Bukan cuma itu, beliau kadanga ngajak kami bercanda, ngasih tebak2an yang “gak jelas”, cerita-cerita lucu, dan ngasih kami petuah2 bijak yang menyemangati kami.

“walaupun saya hidup di gunung,jauh dari kota, saya akan bertahan. Saya akan segera menyesuaikan diri, bekerja apa saja, asal halal untuk keluarga saya...” begitu kira-kira, petuah pak Edi yang kuingat.

Lagi-lagi, GREAT!!!

Dan setelah urusan kami dengan Pak Edi Sutanta malam itu beres, kami pun pulang dengan perut kosong. Lapeeeeerrrr!!! Andi dan Ican pergi beli makan, Aku dan Diva pulang ke mess karena dah titip beli makan ma kedua cowok itu.

Oke, kembali lagi ke hari Jumat, 25 Juli 2008.

Pagi ini sebelum ke kantor, kami sempatkan untuk mengabadikan momen2 terakhir di LAPAN. Yupz.. kita foto-foto dulu. Gak tanggung2, kami minta foto bareng satpam penjaga pintu masuk komplek LAPAN. Emang pada saat itu, satpam yang manis yang lagi jaga, pucuk di cita ulam pun tiba. Hahaha...alhasil dengan senyum mas satpam yang manis dan senyum kami-kami yang gak kalah manis, dapet lah tiga kali jepret.

“Mari, Pak. Sekalian pamitan, insyaAllah besok kami dah selesai KP di sini”

Setelah puas foto2, kami melanjutkan perjalanan ke kantor. Wah, besok pasti satpam2 itu kangen ma kami, besok dah gak ada lagi mahasiswa2 keren yang lewat dan ngasih salam ke para petugas security tiap pagi. (tetep...gak narsis, gak eksis, bro....)

Sampai di kantor, ritual rutin pun berjalan:

  1. bikin kopi/teh anget dulu,

  2. nyalakan komputer

  3. buka firefox dan YM

  4. dan.....ngenet sepuasnya....

Yep, hari ini tinggal minta pengesahan dari si bos, pamit-pamit, nyerahin nilai dan minta sertifikat ke Pak Edi Sutanta, dan.........

PULANG!!!

Format penilaian dah ada, kamiminta Pak Agus dan Pak Sunar untuk memberi penilaian. Setelah masalah nilai beres, kami ke kantor Pak Edi Sutanta untuk nyerahin nilai itu, agar nantinya di tulis di sertifikat. Sekalian kami pamitan juga dengan Pak Edi Sutanta dan foto-foto lagi di deket miniatur roket. Setelah senua urusan sertifikat beres, kami menyeberangi lapangan bola untuk kembali menuju kantor. Sertifikat kami akan dikirimkan ke Jogja via pos, karena belum bisa jadi saat itu juga.

Sang itu, kami pun sudah pamitan dengan si emak dan si teteh di kantin, foto-foto lagi. Terus kami naik ke lantai 4, ke laboratorium untuk pamitan juga ma Pak Deden,dkk. Foto-foto lagi. Sebelumnya kami dah sempet juga mampir ke bengkel, pamitan dan foto-foto ma mas Suryani, pak Kumis, dan mas yang jaga kantor, yang suka banting-banting pintu untuk ngingetin kami agar keluar dari kantor saat sore.

Tapi, manusia emang cuma bisa berencana,, dan Allah yang menentukan semua kejadiannya kayak gimana.

Hari itu, seperti yang sudah diduga, si bos datang ke kantor. Setelah si bos dan staf-stafnya selesai rapat, kami mendatangi si bos dan menyerahkan laporan kami. Diluar dugaan, si bos belum terima dengan laporan kami. Menurutnya yang seharusya meriksa lapora kami bukan Pak Sunar dan Pak Agus, tapi Pak Edi Cahya dan Mas Adi. Sebenernya, si bos dah mau tanda tangan, untuk ngesahin laporan kami, tapi laporan harus diperiksa lagi oleh Pak Edi Cahya. Alhasil, laporan kami, kami serahin lagi ke Pak Edi Cahya dan revisi gak bisa selesai hari itu juga, karena beliau juga sibuk.

Ya Allah, pupus sudah harapan kami untuk bisa pulang besok. Paling gak, kami baru bisa pulang senin atau selasa. Sesaat kemudian, wajah-wajah yang tadinya sumringah, berseri-seri, berubah jadi semrawut. Semua berubah total. Jujur, masing-masing masih punya ganjelan, punya masalah. Bahkan aku sempet nanya ke Diva

“Menurut perasaanmu, kita beneran bisa selesai hari ini gak?”

Diva said “Menurutku sih enggak. Masih ada sesuatu yang ngeganjel. Tapi aku juga gak tau apa itu”

Sore itu, saat akan pulang kantor, saat sudah pasti bahwa kami gak bisa pulang sore ini atau besok, entah apa yang jadi masalahnya, timbul konflik antara Diva dan Ican. Ican marah, dia langsung cabut pulang ke mess duluan. Diva mengejarnya. Dan, hanya tersisa aku dan Andi yang masih terbengong-bengong. Ada apa sih?

Akhirnya aku dan Andi nyusul balik. Kan kunci mess Andi yang bawa, jadi walaupun Ican dan Diva dah nyampe mess duluan, mereka tetep gak bisa masuk. Sampai di mess Ican dan Diva dah nunggu di luar. Sepetinya telah terjadi pebicaraan yang cukup serius antara mereka berdua. Tapi, Ican tetep keukeuh balik ke Jakarta sore ini, dia masuk kamarnya dan langsung packing.

Sedih gak boleh berlarut-larut, selalu ada hikmah di balik semua peristiwa dan ketetapan Allah. Yang kemudian membuat kami lagi-lagi bersyukur....


To be continued.....

Rabu, 08 April 2009

FROM LAPAN WITH LOVE...Episode.13.Hari-hari terakhir....

Hari ke dua puluh enam, Kamis,24 Juli 2008. Setelah tadi malam tidur di atas jam 12 malam, pagi ini kami berangkat ke kantor agak males2an. Tapi bagaimanapun juga,kami tetap lebih dulu daripada yang lainnya. Saat Pak Sunar datang beliau bertanya "maen ke mana aja ni? liburan"
"Dufan, Pak?"jawab salah satu dari kami.

Dan Pak Sunar pun hanya tertawa kecil.

Kami ngelanjutin bikin laporan KP. Rencana kami, jumat besok dah selesai KP dan bisa langsung balik ke rumah masing2. Jadi, hari ini kami semangat untuk menyelesaikan laporan. Bab 1,3,4, dst kami ajukan kepada pak Sunar dan Pak Agus untuk diperiksa. Beberapa revisi kami lakukan.

Hari ini si bos masih di Jakarta. Kami belum bisa ngajuin pengesahan hari ini.Musti bersabar, semoga besok si bos ngantor.

Yah,,,karena memang sudah tidak banyak kerjaan kami dan tidak banyak tekanan dari si bos, kami pun leluasa bermain.hahaha...
Ngenet sepuasnya, donlot banyak video,lagu,dsb. Sibuk nyari info tentang nilai UAS. Yah, saat itu emang saat-saat yang dinanti2kan oleh kebanyakan mahasiswa MIPA apalagi anak2 prodi fisika. Hanya ingin tau berapa IP kami semester ini. Pengantar Mekanika Kuantum dapat apa?Matematika Fisika 3 gimana? Fisika Statistik A atau B? dan sebagainya....

Tapi Ican punya kesibukan lain yang gak kalah seru : hunting tiket ke Padang
Andi : selalu up date info Persib dan frenster-an terus
Diva : ngapain yah???tu anak kadang kerjaannya ga jelas (hahaha...sori div...)
Yesi : nyelesaiin jatah laporanku. wah aku kebagian ngerjain bab2.dasar teori yang segambreng. alhasil, bab2 yang paling terakhir di periksa pak Sunar.

Setelah semua bab beres diperiksa pak Sunar dan Pak Agus, akhirnya semua file di print dan di jilid. Gila, njilidnya musti ke Serpong coba...jauh amat yah. Akhirnya Andi dan Ican bela-belain minjem motor (motor siapa ya? lupa, kalo gak salah motor pak Agus) dan langsung meluncur malalui jalanan berdebu Rumpin-Serpong, bersaing dengan angkot2 yang berebut penumpang (ceileee,segitunya...).

Dan,akhirnya yah...gini-gini aja. gak ada yang istimewa lagi hari ni... Laporan dah beres. Besok tinggal minta pengesahan dari si bos, pamit ke semua orang, sabtu langsung cabut aja...
Tapi, ternyata semua gak semudah yang kami kira. Karena kalo semudah yang kami kira dan berjalan mulus alias datar aja, maka cerita ini gak akan pernah ada. Gak menarik. Ada sesuatu yang terjadi keesokan harinya. Sesuatu yang membuat kami, sekarang bisa tertawa, tersenyum-senyum sendiri saat mengingatnya,dan bersyukur karena pernah ngalamin yang kayak gini. Apaan seh??? wait for next episode..

To be continued...

Minggu, 25 Januari 2009

FROM LAPAN WITH LOVE..Episode12.DUFAN...Dunia itu Fana..haha...

Hari ke dua puluh lima, Rabu,23 Juli 2008. Yupz...hari ni libur. Hari libur nasional, menmperingati maulid Nabi saw. seperti yang sudah kami rencanakan tadi malam, hari ini kami akan menuju Jakarta.Dufan we're coming.

Tapi pagi itu, tak nampak persiapan2 khusus yg kami lakukan. terutama dari pihak lelaki. bahkan sekitar jam 8.00 pagi mereka pada belum mandi. aku ma diva, dah lumayan
siap2 untuk cabut. setelah malawan keragu-raguan,,jadi,,enggak,,jadi,,enggak...akhirnya kami berangkat menuju stasiun Serpong sekitar jam 9.00 atau jam 10.00.

Sampai di Jakarta dah siang. kami turun di stasiun Tanah Abang,lalu dengan gayanya, naek taksi menuju Dufan. Tentunya setelah makan di Warung Masakan Padang (atambuah cie..uda..hihihi...) dan setelah melalui proses tawar menawar yang alot dengan supir taksi.

Supir taksi yang taksinya kami tumpangi pun mulai tancap gas dan menggila. selip sana selip sini, naik jalur bus way, ngebut abiz, biar argonya sesuai dengan harga yang kami tawar untuk sampai ke dufan. yah...lumayan bikin senam jantung. tapi kami cukup bisa menikmati pemandangan metropolitan Jakarta, yang kata orang "ibu kota lebih kejam dari ibu tiri". Monas, Istiqlal, WTC Mangga Dua,dan sebagainya. Hingga akhirnya kami tiba di Dufan dan tetangga2nya. Sampai di Dufan, kami sholat dhuhur dulu. Toiletnya ngantri gilaaa cuy... tapi ini toilet di luar dufan, di deket pantai.

Abiz sholat dhuhur, kami menuju pintu masuk dufan, beli tiket,truz masuk deh.gak lupa tangan di stempel dulu..hehe...

Wahana pertama yang kami tuju adalah....HALILINTAR alias roller coaster. Jadi inget lagunya Ronan Keating "LIFE IS ROLLER COASTER". Seru...walau harus ngantri sekitar 1 jam untuk 5 menit roller coaster.

abis naek roller coaster, istirahat dulu... Sholat ashar, minum, foto2. And then, wahana selanjutnya "KORA-KORA". Seperti kapal yang diayun sampai sudut simpangan maksimalnya tu hampir mencapai 75an derajat dari titik setimbang. Yang satu ni gak kalah seru... Paling seru malah.Pokoknya bakalan teriak , seteriak-teriaknya... Tapi gak demikian dengan Diva, yang dah hampir2 kehilangan kekuatan untuk teriak..

Wahana selanjutnya adl "KICIR-KICIR", tapi setelah sholat maghrib dulu. Susah dijelasin dgn kata2 ne..yang jelas yang ini juga seru, ngeri malah, biarpun aku gak ikut naek.

setelah naek kicir-kicir...terjadi perdebatan yang lumayan seru. Berani naek TORNADO? Gue angkat tangan.. no thanks...setelah ngobrol2, akhirnya kita putuskan naek BIANGLALA ajah..hahaha..kayak di pasar malem .

Wuizhh...melihat suasana malam kota Jakarta dari puncak Bianglala...keren banget bozz... Dan malam ini, kami berada di dufan sampai dufannya tutup. Kami pulang setelah sempat mampir dulu di toko marchendise dufan...yah buat kenang2an lah...

masalahnya sekarang... Bagaimana kami bisa pulang sampai rumpin?

Kami naik taksi sampai terminal Senen. Naek bus ke arah Cikampek. sampai di oper bus segala. Dari Cikampek naek angkot sampai Serpong. Bayangkan saudara, bagi kalian yang hidup di Jogja gak pernah kan naek angkot jam 11 malem. Dan angkotnya juga masih penuh, bukan cuma sopir ma kondektur doank..Nha masalahnya, dari Serpong ke Rumpin, kami musti naek apa. Angakot yang biasanya masih ada sampai jam 12an malem, sekarang gak ada krn hare ni hari libur, gak banyak orang mobile sampai malem. Alhasil,,naek Ojek adalah pilihan yang terpaksa harus diambil.

Sampai di mess, langsung gosok gigi, wudhu, sholat isya' truz cabut ke dunia mimpi..dengan meninggalkan utang yang bejibun karena seharian maen ni, biayanya peke duit ican dulu lah, pake duit diva dululah, pake duit andi dulu lah..dan aku yang paling jarang mbayarin,,hahahah...

To be continued...