Hari keenam, Kamis, 3 Juli 2008. Bangun pagi, sholat subuh gak telat. Tapi biz sholat bobo’ lagi. Wah…kemaren adalah hari yang sangat melelahkan bagi kami. Lima hari, rasanya hidup kami habis di jalan. Cuma jalan2 aja. Dan hari ni pun, kami habiskan waktu di rumah.
Akhirnya aku beranikan diri mampir ke rumah si bos, untuk membicarakan apa yang musti kami kerjakan sekarang.
Flash back ke beberapa malam yang lalu, sebelum peluncuran. Setelah kami beli makan malam, pulangnya lewat rumah si bos. Nha pas itu si bos lagi nyantae di depan rumah. Wal hasil, kami di suruh mampir. Ngobrol punya ngobrol, ditanyalah niatan kami jauh-jauh ke Bogor ini. Ya kami bilang, kami mau kerja praktek, yang artinya mempraktekkan ilmu yang dah diperoleh di kuliahan. Tapi yang membuat kami bingung, ilmu apa yang kami praktekkan di INWAGAN???
Surat permohonan izin kerja praktek kami menunjukka bahwa kami mau kerja praktek di bidang MATERIAL DIRGANTARA. Tapi, Kepala Pusat Teknologi Dirgantara Terapan tidak menyetujuinya karena bidang MatGan belum boleh diakses orang luar. Akhirnya kami “dilempar” ke INWAGAN.
Kembali ke pembicaraan malam itu. Akhirnya dengan nada yakin tapi content bicaranya 80% asal, aku jawab.
“kami mau buat roket untuk ngitung kadar polutan di udara, contohnya kadar CO atau CO2, Pak. Kan sekarang sedang gencar global warming tu. Kami pengen belajar dari bikin PCBnya sampai pasang sensornya.”
“OKE. Bagus itu.” Kata si bos.
Huff…sampai sini posisi kami aman…,tapi setelah itu, beliau bertanya
“Dah bisa mikrokontroler?”
“belum Pak”
“Akses ADC?”
Duh apalagi itu?
“belum juga Pak”
“Lha gimana kalian mau bikin, kalau belum bisa akses ADC, serial, mikrokontroler?”
Sampai disini, posisi kami di ujung tanduk… Kami dah KO… kalah sebelum bertanding…
Satu per satu kami ditanyai, dan kami masih gak ngerti juga musti jawab apa?
“oke, gini aja, kalian ngerjain satu proyek ya…”kata si bos.
Dan malam itu berlalu, tanpa kami tau, apa yang akan kami kerjakan di sini…
Semua rasa campur aduk dalam hati kami masing-masing. Bingung, sedih, pengen pulang, pengen nangis, sesal. Rasanya seperti naik bis, salah jurusan, mau pulang gak ada duit, gak tau musti naik apa, dan kami hanya saling terdiam…
Kembali ke hari Kamis, 3 Juli 2008. Dan setelah pembicaraan yang pendek dengan si bos di rumanya, di workshop kami disidang.
“oke, pernah pake Protel?” Tanya si bos.
“belum Pak”
“Orket?”
“belum Pak”
Denger aja baru sekarang. Batinku.
Tahukah kalian perasaan kami saat itu? Kami sangat terlihat bodoh… Cengok abizzz…
“oke kalian belajar Protel dulu, trus belajar nyolder”
Dan kami pun bagi tugas aku dan Andi belajar protel. Diva dan Ican nyolder. Mungkin kalian pikir, ah nyolder kan gampang. It’s not as easy as you think guys… Solderan harus rapi, kecil2, dsb.
O ya, Protel tu software untuk mbuat PCB. Mulai dari gambar skemanya sampai gambar desain PCB-nya. Seharian itu kami belajar dengan pegawai LAPAN yang ada di situ. Karena dia juga lagi sibuk, gak bisa intens ngajarin kami. Mas Adi namanya…(sori mas, namamu tak publish di sini…thanks ya…). Dan mas Adi ini yang ke depannya, akan sangat membantu dan membela kami…(wah makasih bgt mas, jasamu akan kami kenang sepanjang masa…hehe).
Dan saat malam menjelang, kami pun jalan2 ke toko buku… Lumayan lah ngelepasin stress…melihat Bogor kala malam… Walaupun udah malam, Bogor masih rame dengan orang2 yang baru balik entah dari kantor atau dari mana. Mobilitas orang2nya sangat tinggi. Angkot pun masih rame berkeliaran sampai jam 9-an.
Hari ketujuh, Jumat, 4 Juli 2008. Hari ini pun, kami lalui di workshop. Ada tetangga kami yang meninggal dunia…
Semalam, kami sempat rapat. Membicarakan target2 kita di sini dan apa yang akan kami kerjakan. Muncul banyak ide. Thermometer digital, pengukur kadar polutan,… dan akhirnya kita mau coba bikin thermometer digital aja…
Jumat merupakan hari yang baik. Tapi kondisi kami hari jumat ini tak terlalu baik. Konflik mulai terjadi. Salah dari kami ngotot mau pulang. Dia dah gak pengen ngelanjutin KP lagi. Ini gak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Sekeras apa kami nyegah, dia tetep keukeuh. Tapi akhirnya dia batal pulang, setelah curhat dan di nasehati oleh mas…(ups, maaf namanya tidak boleh disebut. Ada yg sensi. Yang jelas mas ini juga penghuni workshop…bukan mas Adi lho..). Dan malamnya kami diajari dasar2 mikrokontroler ma mas itu tadi (tiiiiiiiiittt…sensor). Mas ini juga yang ke depannya akan jadi informan tepercaya kami tentang dimana si bos dan kapan si bos ke kantor…
Pada saat2 genting, jumat siang itu. Aku masih sempat minta saran Pak Ahmad. Secara, baliau yang nge-link-kan kami dengan LAPAN. Dan beliau memberi kami nasehat untuk ngomong terus terang ke si bos tentang basic ilmu kami dan kondisi kami. Sementara itu, Pak Ahmad juga akan bicara dengan si bos.
Perjuangan pada hari Jumat ini telah kami lalui. Perjuangan melawan ego sendiri. Perjuangan mencari solusi atas masalah2 yang datang. Perjuangan untuk terus bertahan. Dan perjuangan2 lain yang masih harus kami lakukan pada dua puluh tiga hari mendatang….
To be continue…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar