Hari kedelapan belas, Rabu, 16 Juli 2008. As usual, setelah sampai kantor pagi ini kami langsung nge-net dulu… baru kemudian kami lanjutkan belajar akses ADC dan serial.
Kira2 setelah makan siang Pak Sunar tiba2 memberi kami listing program yang sudah siap di compile dan di eksekusi. Di coba-coba, di utak atik, di hapus tulis, di gonta ganti, tampilan pada LCD tetep belum sesuai dgn data yang dikirim lewat komunikasi serial dari mikrokontroler.
Pada saat2 seperti inilah, kemampuan trouble shooting di perlukan. Perlu intuisi yang tajam. Dan intuisi elektronika-nya Pak Sunar mengarah ke hardware sambungan serialnya yang gak beres. Setelah rangkaian kami diganti dgn rangkaian lain milik Pak Sunar dgn jenis mikrokontroler yang sama, ternyata berhasil. Data yang di tampilkan pada LCD sama persis dengan data yang dikirim oleh program yang kami buat. Perlu kita ketahui bersama bahwa memunculkan intuisi untuk menyelesaikan masalah tersebut tidaklah sebentar, memerlukan waktu yang cukup lama. Kalo gak sabar, kita gak akan tahu penyelesaiannya.
Akhirnya jam kantor selesai juga. Sebelum pulang, Pak Sunar pesen kalo besok kami diminta untuk presentasi. Karena yang seruangan dgn Pak Sunar aku dan Diva, keberhasilan akses serial tadi pun hanya diketahui oleh kami, para perempuan. Sedangkan Andi dan Ican di ruangan seberang, tidak ikut menikmati keberhasilan kami. Mereka bahkan belum berhasil mengakses serial. Alhasil, mereka (Andi dan Ican) memutuskan untuk belajar dgn mas Adi secara privat di workshop. Dan kami, para perempuan ditinggal di mess. Tapi, itu bukan suatu kesedihan bagi kami. Aku dan Diva malah seneng…
Malam itu, aku dan Diva menghabiskan waktu dgn nonton film yang di-copy (baca= dibajak) oleh Andi di laptopnya yang ditinggal di mess. Sedangkan sekitar 120 km dari mess LAPAN Rumpin, Andi dan Ican dengan keras belajar akses ADC dan serial sampai pagi… hehe…
Hari kesembilan belas, Kamis, 17 Juli 2008. Aku dan Diva berangkat kantor duluan karena Andi dan Ican belum pulang dari workshop. Tapi anehnya kami nyampe kantor hampir bebarengan. Paling Cuma selisih 15 menit. (sebenernya gak terlalu aneh juga sih..lebay aja…he).
Aku dan Diva berharap banyak dari Andi dan Ican yang sudah privat ma mas Adi. Tapi mungkin emang kalo ngejelasin lagi agak susah. Jadinya, antara kami, para perempuan, dan mereka, para lelaki, gak jauh beda dari segi pemahaman cara mengakses serial. Sekarang, dengan rangkaian DT PROTO 51 yang kami punya, bukan yang punya Pak Sunar, dan dengan listing program dalam bahasa C yang dibawa Andi dan Ican dari workshop, kami coba lagi cara akses ADC dan serial. Keberhasilan diindikasikan dengan samanya nilai tegangan input ADC dengan nilai tegangan yang ditampilkan pada LCD. Mengapa demikian? Karena memang data yang dikirim secara serial ke LCD merupakan nilai tegangan input semua pin ADC pada mikrokontroler yang kira-kira 5000 milivolt.
Setelah berhasil menampilkan nilai tegangan ADC, yang berarti juga berhsail mengakses serial atau mengirim data secara serial, next step is mengirim nilai tegangan suatu baterai yang dihubungkan pada pin ADC. Keberhasilan diindikasikan lagi dengan samanya nilai tegangan baterai dengan nilai tegangan yang tertampilkan pada layar monitor. Pengiriman data secara serial sehingga bisa dibaca di LCD. Awalnya kami masih kesulitan dengan tugas ini. Tetapi kemudian Pak Sunar dan Mas Adi membantu kami untuk bisa selangkah lagi lebih maju.
Tegangan batu baterai selesai di baca. Kami langsung melejit dengan mulai memasang sensor suhu LM35 dan mengukur keluaran suhunya. Di coba-coba, dan dengan di bantu para pembimbing kami, akhirnya kami berhasil mengukur suhu ruangan dengan sensor dan menampilkan hasilnya pada layar monitor. Mulai dari data kasar yang masih berupa perubahan tegangan dalam milivolt dari sensor suhu sebagai respon dari perubahan suhu lingkungan, sampai ke data halus, dengan tampilan hasil pengukuran suhu sudah dalam derajat celcius dua angka di belakang koma.
Listing program yang kami pakai seharian ini merupakan hasil bimbingan dari mas Adi. Nha, kalo listing program yang aku dan Diva pake kemaren merupakan program racikan Pak Sunar. Sehingga aku pun mencoba menjalankan project yang sama, yaitu mengirim data hasil konversi ADC, secara serial, dengan listing program dari Pak Sunar. Karena terkadang antara satu orang dgn yang lain cara membuat listing programnya berbeda meski untuk project yang sama. Ternyata susah. Sampai akhirnya mas Adi turun tangan. Sekaliber mas Adi pun masih memerlukan waktu yang lumayan lama (sampai jam kantor abiz..) untuk bisa menjalankan program tersebut. Berarti wajar-lah nek aku gak bisa…(pembelaan diri ni maksudnya…hehe..).
Cihuy…sudah dua puluh hari kami di sini. Tinggal sekitar 10 hari lagi…
Tetep semangat!!!!
To be continue…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar