welcome to my world...
Saat senja menyemburat jingga...menyerahlah pada kelamnya malam...
Saat senja menyemburat jingga...biarkan bintang yang ganti bekerja...
Saat senja menyemburat jingga...kembali hadapkanlah wajahmu kepadaNya...
Dan saat senja menyemburat jingga...menangis dan bersandarlah pada Sang Pencipta...
Sebagai tanda syukur atas hari ini...
Kamis, 28 Agustus 2008
WELCOME BACK RAMADHAN...
Tamu agung itu segera hadir
sudahkah kita siapkan karpet merah
dekorasi yang indah
untuk mmenyambutnya?
Ya..
Ramadhan segera tiba
sudahkah kita siapkan diri untuk menyambutnya?
menyambut hari-harinya yang penuh berkah?
menyambut saat-saatnya yang penuh ampunan dan
menyambut detik-detiknya yang penuh lipatan pahala
apakah kita akan menyambutnya dengan penuh kerinduan?
atau penuh gerutuan?
akankah Ramadhan kali ini jadi yang terindah?
ataukah akan jadi biasa-biasa saja?
akankah kita melewat Ramadhan kali ini hanya karena sebuah rutinitas tiap tahun?
atau akan kita isi dengan sesuatu yang spesial?
Saudaraku...
tamu agung itu hanya hadir 1 bulan dalam 1 tahun
1 bulan yang seharusnya bisa menjadikan kita jauh lebih baik
yang mementukan bagaimana 11 bulan ke depan
akankah ini jadi Ramadhan terindah dalam hidup kita?
mungkin sekaligus menjadi yang terakhir...
Sabtu, 23 Agustus 2008
FROM LAPAN WITH LOVE..Episode 8. Hari-hari di kantor…(continued)
Hari kedelapan belas, Rabu, 16 Juli 2008. As usual, setelah sampai kantor pagi ini kami langsung nge-net dulu… baru kemudian kami lanjutkan belajar akses ADC dan serial.
Kira2 setelah makan siang Pak Sunar tiba2 memberi kami listing program yang sudah siap di compile dan di eksekusi. Di coba-coba, di utak atik, di hapus tulis, di gonta ganti, tampilan pada LCD tetep belum sesuai dgn data yang dikirim lewat komunikasi serial dari mikrokontroler.
Pada saat2 seperti inilah, kemampuan trouble shooting di perlukan. Perlu intuisi yang tajam. Dan intuisi elektronika-nya Pak Sunar mengarah ke hardware sambungan serialnya yang gak beres. Setelah rangkaian kami diganti dgn rangkaian lain milik Pak Sunar dgn jenis mikrokontroler yang sama, ternyata berhasil. Data yang di tampilkan pada LCD sama persis dengan data yang dikirim oleh program yang kami buat. Perlu kita ketahui bersama bahwa memunculkan intuisi untuk menyelesaikan masalah tersebut tidaklah sebentar, memerlukan waktu yang cukup lama. Kalo gak sabar, kita gak akan tahu penyelesaiannya.
Akhirnya jam kantor selesai juga. Sebelum pulang, Pak Sunar pesen kalo besok kami diminta untuk presentasi. Karena yang seruangan dgn Pak Sunar aku dan Diva, keberhasilan akses serial tadi pun hanya diketahui oleh kami, para perempuan. Sedangkan Andi dan Ican di ruangan seberang, tidak ikut menikmati keberhasilan kami. Mereka bahkan belum berhasil mengakses serial. Alhasil, mereka (Andi dan Ican) memutuskan untuk belajar dgn mas Adi secara privat di workshop. Dan kami, para perempuan ditinggal di mess. Tapi, itu bukan suatu kesedihan bagi kami. Aku dan Diva malah seneng…
Malam itu, aku dan Diva menghabiskan waktu dgn nonton film yang di-copy (baca= dibajak) oleh Andi di laptopnya yang ditinggal di mess. Sedangkan sekitar 120 km dari mess LAPAN Rumpin, Andi dan Ican dengan keras belajar akses ADC dan serial sampai pagi… hehe…
Hari kesembilan belas, Kamis, 17 Juli 2008. Aku dan Diva berangkat kantor duluan karena Andi dan Ican belum pulang dari workshop. Tapi anehnya kami nyampe kantor hampir bebarengan. Paling Cuma selisih 15 menit. (sebenernya gak terlalu aneh juga sih..lebay aja…he).
Aku dan Diva berharap banyak dari Andi dan Ican yang sudah privat ma mas Adi. Tapi mungkin emang kalo ngejelasin lagi agak susah. Jadinya, antara kami, para perempuan, dan mereka, para lelaki, gak jauh beda dari segi pemahaman cara mengakses serial. Sekarang, dengan rangkaian DT PROTO 51 yang kami punya, bukan yang punya Pak Sunar, dan dengan listing program dalam bahasa C yang dibawa Andi dan Ican dari workshop, kami coba lagi cara akses ADC dan serial. Keberhasilan diindikasikan dengan samanya nilai tegangan input ADC dengan nilai tegangan yang ditampilkan pada LCD. Mengapa demikian? Karena memang data yang dikirim secara serial ke LCD merupakan nilai tegangan input semua pin ADC pada mikrokontroler yang kira-kira 5000 milivolt.
Setelah berhasil menampilkan nilai tegangan ADC, yang berarti juga berhsail mengakses serial atau mengirim data secara serial, next step is mengirim nilai tegangan suatu baterai yang dihubungkan pada pin ADC. Keberhasilan diindikasikan lagi dengan samanya nilai tegangan baterai dengan nilai tegangan yang tertampilkan pada layar monitor. Pengiriman data secara serial sehingga bisa dibaca di LCD. Awalnya kami masih kesulitan dengan tugas ini. Tetapi kemudian Pak Sunar dan Mas Adi membantu kami untuk bisa selangkah lagi lebih maju.
Tegangan batu baterai selesai di baca. Kami langsung melejit dengan mulai memasang sensor suhu LM35 dan mengukur keluaran suhunya. Di coba-coba, dan dengan di bantu para pembimbing kami, akhirnya kami berhasil mengukur suhu ruangan dengan sensor dan menampilkan hasilnya pada layar monitor. Mulai dari data kasar yang masih berupa perubahan tegangan dalam milivolt dari sensor suhu sebagai respon dari perubahan suhu lingkungan, sampai ke data halus, dengan tampilan hasil pengukuran suhu sudah dalam derajat celcius dua angka di belakang koma.
Listing program yang kami pakai seharian ini merupakan hasil bimbingan dari mas Adi. Nha, kalo listing program yang aku dan Diva pake kemaren merupakan program racikan Pak Sunar. Sehingga aku pun mencoba menjalankan project yang sama, yaitu mengirim data hasil konversi ADC, secara serial, dengan listing program dari Pak Sunar. Karena terkadang antara satu orang dgn yang lain cara membuat listing programnya berbeda meski untuk project yang sama. Ternyata susah. Sampai akhirnya mas Adi turun tangan. Sekaliber mas Adi pun masih memerlukan waktu yang lumayan lama (sampai jam kantor abiz..) untuk bisa menjalankan program tersebut. Berarti wajar-lah nek aku gak bisa…(pembelaan diri ni maksudnya…hehe..).
Cihuy…sudah dua puluh hari kami di sini. Tinggal sekitar 10 hari lagi…
Tetep semangat!!!!
To be continue…
FROM LAPAN WITH LOVE..Episode 7. Hari-hari di kantor…(continued)
Hari keenam belas, Senin, 14 Juli 2008. Hari keempatbelas dan kelimabelas (Sabtu,120708 dan Ahad,130708) sudah diceritakan di episode enam. Jadi di episode ini langsung hari keenam belas. Senin ini Andi, Ican , dan Diva berangkat kantor seperti biasa, jam 07.30. aku baru sampai LAPAN sekitar jam 07.30 setelah dari Jogja, dana bru ke kentor sekitar jam 08.30 Jadwal kami minggu ini adalah belajar akses ADC. Maka kami pun mulai mengumpulkan informasi tentang akses ADC. Tapi sebelum itu kami sudah dapat rangkaian DT PROTO dgn mikrokontroler jenis AVR ATmega8, yang kami pinjam dari mas Adi di workshop. Hari ini kami mencoba menjalankan mikrokontroler untuk aplikasi yang paling sederhana yaitu menghidupkan lampu LED.
Untuk menjalankan aplikasi yang diinginkan dari mikrokontroler, rangkaian harus disambungkan dengan sambungan paralel LPT1 ke PC. Sambungan ini untuk “mengisi” mikrokontroler dengan program sesuai dgn aplikasi yang diinginkan melalui ISP (In-System Programming) header. Karena ngeliat tu alat juga pertama kali ini, kami gak tau gimana cara pakainya. Oleh karena itu, kami beranikan diri nanya ke pembimbing kami.
Setelah dicoba-coba ma pembi,bing kami, ternyata mikrokontroler (MK) belum mau bekerja. Dan setelah cukup lama kami bingung dengan permasalahan yang kami hadapi tersebut, akhirnya pembimbing kami menemuka pokok masalahnya. Ternyata MK memerlukan tegangan masukan dari adaptor sebesar 9-12 volt. Sedangkan yang kami pake tadi Cuma 5 volt. Walaupun di datasheet MK menyebutkan VCC (tegangan masukan MK) sebesar 5 volt. Setelah adaptor diganti yang 12 volt dan setelah MK diisi program dgn software pemrogram Code Vision AVR (biasa disingkat CV AVR, dgn bahasa C, tapi software ini khusus untuk pemrogram MK jenis AVR yg diproduksi oleh ATMEL), akhirnya kami berhasil menyalakan lampu LED dengan setting lampu LED hidup-mati.
Berhasil menyalakan lampu LED, kami lanjutkan mencari info tentang akses ADC. Apaan sih ADC? ADC merupakan singkatan dari Analog to Digital Converter. Sensor suhu bekerja dengan mengubah suhu lingkungan menjadi tegangan listrik. Artinya setiap perubahan suhu akan menimbulkan perubahan tegangan. Suhu merupakan contoh tegangan analog yang dicirikan dengan grafik yang kontinyu. Sedangkan data yang bisa dibaca computer adalah data digital (diskrit). Sehingga dibutuhkan “tukang” konversi dari tegangan analog ke data digital yang bernama ADC. Cara baca hasil konversi dari ADC inilah yang kami pelajari minggu ini. Akses ADC membutuhkan program tersendiri dari CV AVR.
Seharian ini itulah yang kami kerjakan. Tentu selain pekerjaan sampingan yang wajib bagi kami yaitu nge-net dan kadang2 chatting juga…hehe…
Hari ketujuh belas, Selasa, 15Juli 2008. Masih seperti biasanya, kami berangkat ke kantor sekitar jam 08.00, nyampai kantor sekitar jam 08.25. Dan seperti biasanya juga, kantor masih sepi, paling baru ada satu dua orang.
Hari ini kami masih mempelajari akses ADC dan serial. Mula- mula buka dulu software Code Vision AVR, trus pake code AVR wizard. Dengan AVR wizard ini kita tinggal mengisikan main program dan inisialisasinya, yang lainnya sudah diisikan oleh software. Tinggal pilih jenis mikrokontrolernya, pilih ADC enable, generate,save,and exit. Udah deh. Njut piye? Truz gimana?
Tidak ada reaksi apapun pada rangkaian. Kami dah bingung. Akhirnya ku beranikan diri sms mas Adi untuk nanya gimana cara akses ADCnya. Dan di balas. Setelah dicoba buat program lagi sesuai instruksi mas Adi, tetap tidak terjadi apa-apa. Wah gimana ni? Pembimbing kami, Pak Sunar, keliatan lagi sibuk. Gak enak kalo ganggu. Akhirnya, kami menyebrang ke ruangan depan untuk nanya pembimbing kami yang satunya, Pak Agus. Beliau langsung nge-cek program kami. Menurut beliau, programnya udah bener, Cuma butuh beberapa revisi. Sekarang main programnya diisi untuk komunikasi serial-nya. Agar data dapat ditampilkan pada LCD.
Disela-sela keasyikan kami membahas ADC dan serial, sembari nge-net, sayup-sayup terdengar suara yang tidak asing bagi kami. Bahkan sering membuat kami bergidik. Ya, tidak salah lagi, itu suara si bos. Hari ini si bos ngantor, dan kami belum nyiapin mental untuk menghadapinya. Dan tentunya seperti biasa, si bos mengundang kami berempat ke ruangannya. (paragrap ini lebay bgt yah…)
“gimana perkembangannya?” kata si bos memulai sidang.
Dengan bangga ku jawab “ kami sudah bisa ngidupin LED pak”
“bisa ngidupin LED , tapi paham gak?” kata si bos langsung menyiutkan nyali.
Tapi untungnya Pak Agus memuji kami “iya pak, bagus ni mahasiswa, sudah bisa ngidupin LED. Tinggal nanti akses serial.”
Ahh, itulah pertolongan Allah pada hamba2nya lewat Pak Agus. Alhamdulillah.
Obrolan kami selanjutnya aku lupa yang jelas hari ini si bos agak lunak. (hehe emangnya kerupuk melempem…).
Kami ditugasi untuk presentasi tentang cara akses ADC, serial, dan sensor suhu LM35. Bagi tugas belajar biar terasa lebih ringan. Aku pilih ngerjain sensor suhu LM35. Dan untungnya pas si bos menghampiri mejaku, aku lagi ngerjain tugas presentasi tersebut. Huff…selamatlah imej ku…hehe…
Saat makan siang aku sempet di ajak ngobrol ma si bos. Ya aku dan si bos emang lumayan bisa ngobrol. Do you know why? Aku dan si bos sekampung. Bisa dibilang tetanggaan. Rumah beliau RW8, rumahku RW7. Bahkan, keponakannya dulu temen SD dan SMP ku. Dan bahkan lagi, om ku temen deket si bos sejak SD sampai SMP. Ini merupakan satu bukti lagi kalo dunia tu sempit, at least menurutku. Dari obrolan singkat ini, aku baru melihat maksud baik si bos. Beliau ingin kami di LAPAN gak Cuma sebulan (yang bener aja…) agar kami bisa lebih membuka wawasan kami tentang “dunia luar”. Jadi, si bos ingin orang MIPA FISIKA gak Cuma berkutat jadi dosen, tentor, guru, tapi juga bisa ke mana-mana. O ya, dah tak critain belum yah kalo si bos ini alumni FISIKA UGM tahun 80-an, semasa FISIKA masih bersatu, belum tercerai berai menjadi FISIKA, ELINS, dan GEOFISIKA. Beliau ni lulusan S1 FISIKA UGM dan S2 TE ITB.
Dari kantin Andi dah sms dan miskol, gak tau apa kalo aku sedang terjebak obrolan dgn si bos. Tapi segera si bos mengakhiri obrolannya dan pulang. Selama seminggu ini beliau akan ke luar
To be continue…
Kamis, 21 Agustus 2008
FROM LAPAN WITH LOVE..Episode.6 Hari-hari di kantor…
1. hidupkan komputer
2. buka YM (yahoo messenger)
3. buka email
4. buka google
Wah pokoknya kerjaan pertama kami ada nge-net terus bozz…
Tapi setelah ritual awal itu selesai kami berkutat kembali dengan Protel, di samba ne-net juga. Hehe.. Hari ni kami mulai desain layout PCB. Kami diajari gimana bikin desain PCB yang bagus ma pembimbing kami. Tata letak tiap komponennya, perbesar hole biar kaki2 komponen bisa masuk, perbesar timah untuk solderan,dsb. Seharian kami nyelesaiin desain PCB.
Langsung ke next day aja yah…
Hari keempatbelas, Kamis, 10 Juli 2008. Ritual wajib, jalan kaki ke kantor sekitar setengah jam. Lakukan ritual pertama waktu nyampe kantor. Truz lanjutkan pekerjaan kami nyelesaiin desain PCB kami masing-masing.
Tapi tak disangka tak diduga. Gak ada angin gak ada ujan. Gak ada Dewi Persik apalagi Inul Daratista, si bos datang ke kantor. Ya emang sejak Selasa sampai Kamis si bos pergi ke luar kota. Kami jadi agak tenang di kantor. Tapi hari ni si bos datang dan…
“ayo sini yang pkl ngumpul dulu, Gus, Sunar” si bos manggil kami dan kedua pembimbing kami, Pak Agus dan Pak Sunar.
Wah bakal ada interogasi lagi neh…Perasaan dah gak enak aja niy…
“gimana dah sampai mana?” Tanya si bos.
“desain PCB dah jadi, Pak” kata kami.
“dah di print?”
“belum Pak”
“ya udah di print aja, wong ada printer kan”
“ya Pak”
Aku dan Diva berdiri mau ngeprint skematik PCB dan desain layout PCB. Tapi ternyata ngeprint desain layout PCB gak segampang yang kami duga. Wah gimana ngeprintnya nih?? Akhirnya kami nanya ma sekretaris si bos gimana cara ngeprintnya. Ternyata mas-nya juga gak bisa. Akhirnya manggil Pak Agus untuk bantuin kami ngeprint. Setelah kembali ke ruangan si bos, beliaupun berkomentar,
“wah gimana to? Berarti belajar protel-nya belum berhasil nih. Belajar protel tu harus sampai bisa ngeprint”
Deg. Waktu serasa berhenti. Wah salah lagi ni di mata si bos.
“ya udah, ini sudah lumayan. Langsung aja di pesan PCBnya lewat email. Satu orang, dua”
“oke sekarang ayo di tulis di papan apa aja target yang akan kalian lakukan selama KP” kata si bos lagi.
Dan Andi pun maju ke whiteboard yang ada di ruangan si bos menulis rencana kegiatan kami selama KP.
1. Belajar Protel
2. belajar akses ADC
3. belajar akses Serial
4. belajar Timer.
“wah itu bukan target tapi kegiatan” kata si bos.
“kalau target berarti, sampai bisa Protel, bisa akses ADC, bisa akses serial, dst” lanjut si bos.
“sekarang coba tulis niatan kalian dari Jogja sampai ke sini” kata si bos lagi.
Dan aku maju, nulis
1. menerapkan ilmu material processing pada teknologi dirgantara (wuizzz…puitis coy..hehe )
2. mencari pengalaman kerja.
3. mencari link dengan orang2 pintar (yang satu ini Ican yang nulis)
“oke niatannya dah mulia. Tapi walaupun yang nomor satu gak sesuai, gak pa pa ya. Nomor dua dan tiga kan bisa sambil jalan. Jadi sekarang enaknya mereka bikin apa ni, Gus, Nar?” Tanya si bos ke Pak Agus dan Pak Sunar.
“ehm…Data akuisisi suhu aja, Pak” kata Pak Sunar.
“OKE, Data Akuisisi Suhu Berbasis Mikrokontroler AVR ATmega8 ya?”
“Ya Pak. Berarti gak perlu belajar Timer”
Dan akhirnya, Data Akuisisi Suhu Berbasis Mikrokontroler AVR ATmega8 inilah yang akan kami kerjakan selama kurang lebih tiga minggu.
“lha kalo alatnya belum jadi gimana caranya belajar akses ADC?”
“belajar dari alat yang sudah ada Pak” kata Andi.
“ya bener, jadi semua tu ada solusinya. Ya udah selama nunggu PCB dipesen, kalian belajar ADC dengan beli rangkaian DT PROTO di Glodok atau ambil di Workshop, pinjem mas Adi” kata si bos menutup pertemuan ini.
Dan setelah menyelesaikan desain layout PCB kami masing-masing dan memberikannya pada Pak Agus untuk diperiksa, pada hari Kamis. Jumat ini desain PCB mulai di kirim Pak Agus lewat email ke jasa pembuatan PCB di Bandung.
Hari ini kami sudah mendapat kejelasan atas apa yang akan kami lakukan di sini selama sekitar tiga minggu kedepan. Dan jumat ini aku ada rencana pulang ke Jogja karena mw ke nikahan temen.
Pulang kantor aku langsung packing, truz naik angkot ke stasiun Serpong, naik KRL ke Tanah Abang. Dari stasiun Tanah Abang ke stasiun ke stasiun Pasar Senen. Nha sekarang ini cerita pribadiku yang gak kalah seru. Hehe..
Di stasiun Pasar Senen aku beli tiket kereta Senja Utama Jogja yang berangkat sekitar jam 19.00. Tapi sayangnya aku dapatnya tiket no seat alias gak dapet tempat duduk. Wah gimana ni, masa berdiri sepanjang perjalanan?
Setelah kereta dateng, aku menuju gerbong belakang, sekitar gerbong 7 atau 8. Aku berdiri di deket pintu gerbong. Untungnya ada orang yang nawarin tempat duduk di deketnya. Eit tunggu dulu ni bukan tempat duduk biasa. Lesehan bozz… deket pintu, deket sambungan gerbong, yang saat malam duinginnn bgtz…jadi sepanjang perjalanan dari Jakarta-Jogja aku duduk di lesehan beralaskan beberapa lembar koran, di deket pintu, deket toilet, deket sambungan gerbong, dingin bangetz… wah, adakah di antara kalian pernah ngalamin kejadian kayak gini?atau lebih tragis lagi? Huff…
Jadi weekend ni aku sempet pulang ke rumah dan ke Jogja. Ican ke Glodok nyari DT PROTO. Andi dan Diva ke Bogor, ke workshop pinjem DT PROTO dan sensor suhunya.
To be continue…
FROM LAPAN WITH LOVE..Episode.5 Workshop-Rumpin what’s up bro??
Di mobil, lagi2 kami kalah telak saat di interogasi si bos.
“gimana? Dah sampai mana belajar protelnya?” Tanya si bos.
“udah bisa mengoperasikan protel Pak” jawabku.
“jangan Cuma bisa mengoperasikan dong. Kalian bikin PCB baru pake protel itu”
Waduh… Kami emang dah bisa ngoperasiin protel. Bisa gambar skematik PCB. Tapi latihan kami kemaren2 tu baru menggambar lagi skema PCB yang sudah ada. Kalo bikin PCB yang bener2 baru dari awal sampai jadi desain PCB nya, ya…kami belum bisa. Tapi untunglah, mas Adi “membela” kami.
“kalo gak bener2 didampingi tu emang susah belajar protel” kata Mas Adi “ dan kemaren di workshop saya juga lagi sibuk” lanjutnya.
Huff…alhamdulillah…kami lumayan tertolong dengan pernyataan mas Adi barusan.
“dan mereka juga bukan anak fisika instrumentasi” kata mas Adi lagi.
“ooo…iya to?”kata si bos.
Lha baru tau to? Batin kami. Wah…kacau. Pantesan beliau memperlakukan kami seperti seorang anak ELINS. Dan kami jadi tampak seperti anak ELINS yang ketahuan selalu tidur pas kuliah, di mata si bos. Di tanyain ini itu, gak ada yang tau.
“iya, material ya?” kata mas Adi sambil nengok ke kami.
“Iya” jawab kami hampir barengan.
“ooo…ya gak papa…kan belajar gak mesti di kuliahan. Ya Di?” Kata si bos sambil nengok ke mas Adi.
“iya. Saya juga fisika lho dulu, tapi fisika instrumentasi. Saya bisa mikrokontroler juga bukan di kuliahan”
“ ya udah, sekarang kalian bikin development kit board ya...bla..bla…bla. ngerti? Kalau saya ngomong di catet…”kata si bos.
Diva langsung ngeluarin buku dan pulpen. Tapi gak tau mesti nyatet apa. Gak ngerti si bos ngomongin apa. Istilahnya asing semua.
Ya Robbi, perjalanan dari workshop ke Rumpin harusnya Cuma 1.5 jam. Tapi rasanya jadi 1.5 abad. Lamaaaa bgt. Kapan nyampenya ni???? Dan setelah gerbang LAPAN terlihat, hati rasanya ploooooonggg bgt. Ambil kunci mess ke salah satu pegawai INWAGAN, ke mess, lalu kami pun diizinkan untuk naruh barang2 dulu di mess.
Saat makan siang, kami berangkat ke kantor. Pengennya sih langsung mampir kantin, tapi gak enak ma si bos. Akhirnnya kami masuk kantor dulu.
Di kantor, akhirnya mas Adi menjelaskan kepada kami apa yang diperintahkan si bos di mobil tadi. Di kasih file2 yang bersangkutan dengan tugas tersebut. Hari itu kami mulai ngerjain tugas. Difasilitasi satu komputer. Andi pake laptopnya sendiri.
Kami mulai dengan ngerjain skematik PCB dengan protel. Seharian kami ngerjain itu.
Ican sampai mess LAPAN, dari Jakarta, dah siang dan gak nyusul kami ke kantor.
Hari kedua kami ngantor, berjalan lancar. Hari berikutnya? Akan jadi lebih baik. Itulah yang mesti diperjuangkan setiap hari…
Hari keduabelas, Rabu, 9 Juli 2008. Berangkat ke kantor sekitar jam 08.00 sampai di kantor INWAGAN sekitar jam 08.25. Jalan kaki (kebayang gak seberapa luasnya komplek LAPAN??). Itu pun, kami sampai di kantor pertama. Kantor masih sepi.
Hari kedua, kami masih berkutat dengan protel. Masih ngerjain skematiknya. Lumayan susah sih,.. ada beberapa komponen yang harus ditambahkan dan digambar sendiri.
Yah…seharian masih ngerjain protel. Dan tentunya kegiatan sampingan lainnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah….nge-net. Hehe…aji mumpung bozz… mumpung bisa nge-net gratis, cepet pula. Tapi tentunya tidak mengabaikan tugas utama kami…
Jam makan siang, kami sholat dhuhur, truz makan siang di warung bu Mul (hatur nuhun nya mak…).
“Dah neng, catet aja, dah di bayar si bos” kata bu Mul.
Alhamdulillah, kami makan dengan gratis karena biaya makan siang dah di tanggung si bos (Bidang INWAGAN).
Abis makan siang, ngerjain tugas lagi. Si bos dah pulang. Kita jadi bisa agak lega.
Saat jam pulang kantor, jam 16.00. Setelah sholat ashar kami pulang ke mess jalan kaki.
Baru 12hari, perjuangan di LAPAN masih belum berakhir…
To be continue…
FROM LAPAN WITH LOVE..Episode 4. 21 ribu duduk versus 14 ribu berdiri…
Hari kedelapan, Sabtu, 5 Juli 2008. Wah…hari Sabtu ngapain ya?? Pagi2 aku nyuci, dah banyak baju kotor je… Diva? biasa…pagi2 nonton infotainment, berharap dirinya masuk di acara itu. Tapi sayang, harapannya tak bersambut. Kalo ada infotainment tingkat kelurahannya, mungkin aja dia masuk… pagi gossip, siang Silet, sore? Insert Investigasi. Infotainment por eper lah… Andi? Wah ni anak, bolak-balik tidur… dan parahnya, ketahuan si bos lagi…Emang, si bos biasa ngadain sidak alias inspeksi mendadak ke workshop. Dan pada saat itu, Andi-lah yang kena sidak.
“Waaa, gimana ni kok malah tidur terus…” kata si bos.
Dan Andi hanya terdiam seribu bahasa.
Ican, yang notabene doyan tidur, selamat dari sidak. Do you know why?
Soalnya…dia balik ke Jakarta. (nya heuheuh atuh…!!!)
Hari kesembilan, Ahad, 6 Juli 2008. Owh…hari ni sama aja, gak ada kerjaan. Buat ngisi waktu, aku nyuci lagi aja. Rajin ya? Diva, Andi, ngapain ya? Lupa ah. Pokoknya hari sabtu-ahad, kerjaan kami Cuma nyantai2 aja…
Sampai akhirnya ada sebuah sms masuk ke hapeku yang membuat kami lega dan optimis kembali(ehm,lupa ni, smsnya sampai hari sabtu atau hari ahad…). Sms itu dari pak Ahmad. Bunyinya kurang lebih seperti ini :
“yesi, sy sudah bilang ke p’cahya ttg kondisi kalian.insyaAllah baliau bisa Bantu,aktif kerja hari senin.”
Serasa mendapat angin segar. Sesegar es kelapa muda di siang bolong saat musim kemarau panjang. Sesegar angin sore di pantai Santolo. Sesegar es jeruk di burjo Geulis, samping kosan. Pokoknya, kita langsung optimis, bahwa senin besok akan ada jalan keluar atas semua masalah kami.
Sebuah bekal optimisme, cukup membuat kami tidur pulas, dan menghadapi hari senin dengan semangat…
Hari kesepuluh, Senin, 7 Juli 2008. Yeah…senin datang juga… Dengan semangat aku mandi jam 05.30. Sampai Andi terharu dan ikut semangat mandi pagi2 juga. Sekitar jam 07.00 kami berangkat ke komplek LAPAN, tanpa tahu angkot apa yang harus kami naiki. Kami Cuma tau angkot pertama yang harus kami naiki adalah angkot jurusan Bogor-Parung. Karena komplek LAPAN alamatnya di Rumpin, dari Parung kami naik angkot jurusan Rumpin. Tapi, firasat dah gak enak ni...
Setelah sekian lama di angkot, akhirnya kami terpaksa harus diturunkan di suatu tempat yang sama sekali gak kami kenal. Sampai kami beranggapan bahwa daerah itu juga gak ada di peta. Tapi ternyata tempat itu ada namanya,yaitu Janala. O ya kami terpaksa diturunkan di situ bukan karena kami gak mau bayar. Bukan pula karena kami terlalu cakep sampai gak ada penumpang lain yang PeDe bersanding dengan kami. Melainkan karena tempat itu merupakan tempat pemberhentian terakhir, sedangkan LAPAN ternyata masih jauh. Setelah kami turun dari angkot, langsung kami diserbu tukang ojeg yang menawari ojeg sehaga 20ribu. Wah naik angkot itu tadi aja abiz 10ribu, masa’ naik ojeg 20 ribu lagi? Tekorlah kami.
Akhirnya kami telpon salah satu kenalan kami yang merupakan staff INWAGAN LAPAN. Katanya kami harus naik angkot lagi ke daerah Cicangkal. Padahal angkot ke Cicangkal tu gak banyak. Wah…piye iki???
Ada angkot dari Bogor yang datang.
“Ka mana neng?” Tanya sopi angkot.
“Ke LAPAN, Pak. Kalo angkot yang ke Cicangkal ada gak ya pak?” Tanya Diva.
“Wah kalo ke Cicangkal jarang mbak…”kata sopir angkot.
Ha…??? Lemas-lah kami.
Tapi tak lama kemudian pak Sopir itu berseru (ceilee…berseru…).
“nha itu angkot ke Cicangkal neng…” kata sopir angkot sambil nengok ke belakang.
“Itu pak???” dengan nada setengah gak percaya.
“Iya neng”
Yah…emang setengah gak percaya. Karena ternyata angkotnya tu kayak mobil pribadi, plat item, dan yang naek Cuma 2 orang, tambah kami jadi 5 orang. Bayar lagi 4ribu
Bye..bye..tukang ojeg…
Sampai di Cicangkal, sopir angkot nunjukin kami angkot yang harus kami naiki lagi untuk menuju LAPAN.
“Ka LAPAN kang?” Tanya Andi.
“Iya, ayok…”
Inilah angkot terakhir yang kami naiki dalam perjalanan menuju kantor LAPAN. Dari jalan depan komplek LAPAN, sampai kantor INWAGAN, kami harus jalan sekitar 1km. Sampai di kantor INWAGAN, kami bertemu Pak Deden, staff INWAGAN yang tadi kami telepon.
“wah, nyampe juga. Tadi dah mo saya suruh nebeng truk pasir aja. Kalian beruntung tu, angkot ke Cicangkal tadi adanya cuma pas hari Senin ma Kamis aja” kata Pak Deden.
Naek truk pasir? Ya, soalnya di Janala tadi kayaknya emang tempat penambangan pasir.
Sampai di kantor kita itung2, ongkos untuk menuju Rumpin.
Angkot Bogor-Parung 5ribu
Parung-Rumpin (Janala) 10ribu
Janala-Cicangkal 4ribu
Cicangkal-LAPAN 2ribu
Total 21ribu…!!!!
Sekali jalan 21 rebeng cing…!!!
Di kantor, kami ketemu Pak Cahya, kemudian kita diberi pembimbing dan mulai diskusi dikit dengan pembimbing kami itu. Selebihnya kami Cuma nyantai, istirahat, nge-net, chatting… yah hari pertama kerja ney…
Yeah…dah dapet solusi, dan besok kami akan pindah ke mess LAPAN.
O ya, tahukah kalian kenapa kami kesasar? (tahukah kalian kalo Spongebob pindah???) Padahal kami naik angkot jurusan Rumpin. LAPAN juga di Rumpin.
Begini ceritanya…
LAPAN tu di daerah Rumpin-Bogor. Tapi Rumpin-nya dah di pojok, perbatasan ma Serpong. Jadi mending naik angkot yang ke Serpong, lebih deket ke LAPAN-nya. Dong kan? Pasti dong lah, kan anak fisika…(lah…opo hubungane?)
Dan setelah nyantae di kantor, kami pulang ke workshop jam 4 sore, sekalian biz ashar. Dari LAPAN, naik angkot ke Serpong. 4ribu.
Dari Serpong, naik bis ke Parung. 5 ribu.
Dari Parung, naik angkot ke Bogor (workshop). 5ribu.
Total 14 ribu. 3 angkot, 14 ribu. Lebih murah kan daripada pas berangkat tadi…?
Pas dari Serpong ke Parung, kita naik bis-nya cap berdiri alias kami bergelantungan di bis. Dan pas ada kesempatan untuk duduk, aku duduk duluan. Andi dan Diva masih bertahan sikap sempurna berdiri dengan tangan kanan pegang apapun yang bisa buat nahan berdiri dan tangan kiri pegang tas. Atau dua tangan pegangan pintu bis.
Nha pas ada kesempatan kedua untuk duduk. Diva langsung ambil tempat duduk. Tapi langsung si kenek berseru…”Parung, parung,…” yang artinya ni dah nyampe Parung. Hwahahaha…. Seketika aku ma Andi tergelak. Ngapain duduk Div? ni dah nyampe Parung coy…
Dari Parung, kami naik angkot ke workshop. Sampai workshop, sekitar jam 18.50. Langsung sholat maghrib, mandi, sholat Isya’. Then… sliping lah…
Cuapek banget ni…
Ican,masih di Jakarta. Gak ikut petualangan kami hari ini.
Huff…hari ini, perjuangan lagi. Perjalanan ke kantor hari ini… Sekarang benar2 terasa bahwa setiap hari kami adalah sebuah perjuangan… “Hidupadalah perjuangan”, sekarang bukan lagi sekedar pepatah bagi kami…
To be continue….
FROM LAPAN WITH LOVE..Episode 3. We must to hold on…
Akhirnya aku beranikan diri mampir ke rumah si bos, untuk membicarakan apa yang musti kami kerjakan sekarang.
Flash back ke beberapa malam yang lalu, sebelum peluncuran. Setelah kami beli makan malam, pulangnya lewat rumah si bos. Nha pas itu si bos lagi nyantae di depan rumah. Wal hasil, kami di suruh mampir. Ngobrol punya ngobrol, ditanyalah niatan kami jauh-jauh ke Bogor ini. Ya kami bilang, kami mau kerja praktek, yang artinya mempraktekkan ilmu yang dah diperoleh di kuliahan. Tapi yang membuat kami bingung, ilmu apa yang kami praktekkan di INWAGAN???
Surat permohonan izin kerja praktek kami menunjukka bahwa kami mau kerja praktek di bidang MATERIAL DIRGANTARA. Tapi, Kepala Pusat Teknologi Dirgantara Terapan tidak menyetujuinya karena bidang MatGan belum boleh diakses orang luar. Akhirnya kami “dilempar” ke INWAGAN.
Kembali ke pembicaraan malam itu. Akhirnya dengan nada yakin tapi content bicaranya 80% asal, aku jawab.
“kami mau buat roket untuk ngitung kadar polutan di udara, contohnya kadar CO atau CO2, Pak. Kan sekarang sedang gencar global warming tu. Kami pengen belajar dari bikin PCBnya sampai pasang sensornya.”
“OKE. Bagus itu.” Kata si bos.
Huff…sampai sini posisi kami aman…,tapi setelah itu, beliau bertanya
“Dah bisa mikrokontroler?”
“belum Pak”
“Akses ADC?”
Duh apalagi itu?
“belum juga Pak”
“Lha gimana kalian mau bikin, kalau belum bisa akses ADC, serial, mikrokontroler?”
Sampai disini, posisi kami di ujung tanduk… Kami dah KO… kalah sebelum bertanding…
Satu per satu kami ditanyai, dan kami masih gak ngerti juga musti jawab apa?
“oke, gini aja, kalian ngerjain satu proyek ya…”kata si bos.
Dan malam itu berlalu, tanpa kami tau, apa yang akan kami kerjakan di sini…
Semua rasa campur aduk dalam hati kami masing-masing. Bingung, sedih, pengen pulang, pengen nangis, sesal. Rasanya seperti naik bis, salah jurusan, mau pulang gak ada duit, gak tau musti naik apa, dan kami hanya saling terdiam…
Kembali ke hari Kamis, 3 Juli 2008. Dan setelah pembicaraan yang pendek dengan si bos di rumanya, di workshop kami disidang.
“oke, pernah pake Protel?” Tanya si bos.
“belum Pak”
“Orket?”
“belum Pak”
Denger aja baru sekarang. Batinku.
Tahukah kalian perasaan kami saat itu? Kami sangat terlihat bodoh… Cengok abizzz…
“oke kalian belajar Protel dulu, trus belajar nyolder”
Dan kami pun bagi tugas aku dan Andi belajar protel. Diva dan Ican nyolder. Mungkin kalian pikir, ah nyolder kan gampang. It’s not as easy as you think guys… Solderan harus rapi, kecil2, dsb.
O ya, Protel tu software untuk mbuat PCB. Mulai dari gambar skemanya sampai gambar desain PCB-nya. Seharian itu kami belajar dengan pegawai LAPAN yang ada di situ. Karena dia juga lagi sibuk, gak bisa intens ngajarin kami. Mas Adi namanya…(sori mas, namamu tak publish di sini…thanks ya…). Dan mas Adi ini yang ke depannya, akan sangat membantu dan membela kami…(wah makasih bgt mas, jasamu akan kami kenang sepanjang masa…hehe).
Dan saat malam menjelang, kami pun jalan2 ke toko buku… Lumayan lah ngelepasin stress…melihat Bogor kala malam… Walaupun udah malam, Bogor masih rame dengan orang2 yang baru balik entah dari kantor atau dari mana. Mobilitas orang2nya sangat tinggi. Angkot pun masih rame berkeliaran sampai jam 9-an.
Hari ketujuh, Jumat, 4 Juli 2008. Hari ini pun, kami lalui di workshop. Ada tetangga kami yang meninggal dunia…
Semalam, kami sempat rapat. Membicarakan target2 kita di sini dan apa yang akan kami kerjakan. Muncul banyak ide. Thermometer digital, pengukur kadar polutan,… dan akhirnya kita mau coba bikin thermometer digital aja…
Jumat merupakan hari yang baik. Tapi kondisi kami hari jumat ini tak terlalu baik. Konflik mulai terjadi. Salah dari kami ngotot mau pulang. Dia dah gak pengen ngelanjutin KP lagi. Ini gak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Sekeras apa kami nyegah, dia tetep keukeuh. Tapi akhirnya dia batal pulang, setelah curhat dan di nasehati oleh mas…(ups, maaf namanya tidak boleh disebut. Ada yg sensi. Yang jelas mas ini juga penghuni workshop…bukan mas Adi lho..). Dan malamnya kami diajari dasar2 mikrokontroler ma mas itu tadi (tiiiiiiiiittt…sensor). Mas ini juga yang ke depannya akan jadi informan tepercaya kami tentang dimana si bos dan kapan si bos ke kantor…
Pada saat2 genting, jumat siang itu. Aku masih sempat minta saran Pak Ahmad. Secara, baliau yang nge-link-kan kami dengan LAPAN. Dan beliau memberi kami nasehat untuk ngomong terus terang ke si bos tentang basic ilmu kami dan kondisi kami. Sementara itu, Pak Ahmad juga akan bicara dengan si bos.
Perjuangan pada hari Jumat ini telah kami lalui. Perjuangan melawan ego sendiri. Perjuangan mencari solusi atas masalah2 yang datang. Perjuangan untuk terus bertahan. Dan perjuangan2 lain yang masih harus kami lakukan pada dua puluh tiga hari mendatang….
To be continue…
Selasa, 19 Agustus 2008
FROM LAPAN WITH LOVE..Episode 2. Tinggalkan Ground Zero Zero menuju Safety Area…
Episode 2. Tinggalkan Ground Zero Zero menuju Safety Area…
Hari keempat, Selasa, 1 Juli 2008. Sekitar jam 10.00 kami menuju stasiun peluncuran Roket LAPAN Pameungpeuk. Sempat di kawal petugas keamanan waktu masuk. Tapi selanjutnya lancar aja, setelah kami bertemu si bos di sana. Kemudian kami menuju control room, tempat merakit roket uji muatan (RUM, roket ini produknya INWAGAN) yang akan diluncurkan. Lagi2 kami Cuma liat2, lha gak ada yang bisa kami kerjakan. Nha RUM ini terdiri dari motor roket, muatan roket (badan roket), dan nose (moncong roketnya). Kenapa dinamai Roket Uji Muatan? Karena roket ini memang hanya bertujuan untuk menguji muatan roketnya.Eh…ini kataku sih. Tapi sepertinya memang demikian. Dalam setiap peluncuran atau biasa disebut Uji Terbang Roket (UTR), diluncurkan beberapa roket dgn maksud pengujian yang berbeda2. Ada roket yang diuji bahan bakarnya (propelan); dengan bahan bakar sekian, roket akan mencapai ketinggian sekian, mampu mengangkat beban sekian, lintasannya seperti apa,dsb. RUM menguji muatan roketnya. Pada uji terbang kali ini, ada 3 RUM yang diluncurkan dengan muatan yang berbeda2. Muatan 1, GPS. Muatan 2, kamera CCTV. Dan RUM ketiga, untuk menguji parasut dan spanduk. Kami sempat menuju launching pad, bantu2 masang kabel, liat-liat. Dan selebihnya kami berada di control room, melihat kesibukkan para personel INWAGAN mempersiapkan RUM.
Saat ashar kami kembali ke rumah Andi, istirahat, sholat. Dan ketika sore menjelang, waktunya jalan2...:-) Sekitar jam16.30 kami ke pantai Santolo, dengan berbekal makanan kecil dan minuman. Sunset drive di pantai Santolo,…ajiiiibbb…!!! Pantainya indah banget bozz….sepi,bersih, pas sunset lagi…wah.. apik lah pokok e!!
Hari kelima, Rabu, 2 Juli 2008. Kata pegawai INWAGAN, peluncuran akan dilangsungkan pagi2 bgt, sekitar jam 05.30, sebelum anginnya gede. Karena RUM tidak bisa terbang dengan kecepatan angin sekitar di atas 5 knot. Maka, setelah bergulat dengan udara dingin Pameungpeuk, dan dengan malas harus mandi jam 05.00, kami pun menuju Stasiun Peluncuran Roket sekitar jam 06.00.
“Dari mana mas?” sapa petugas keamanan LAPAN.
“Dari UGM pak?” kata Andi.
“O ya….silakan mas”
Kami masuk ke stasiun peluncuran roket, bertemu kenalan, dan berjalan menuju Launching Pad. Hampir semua orang yang datang adalah orang2 LAPAN dari berbagai Deputi, dengan seragam putih-biru dan atribut LAPAN. Sehingga kami yang pakai baju preman, tampak bagai makhluk asing. Tapi dasar kita cuek, melenggang saja. Mahasiswa UGM…(Halah…)
Tapi, waktu peluncuran agak molor, sekitar jam07.00 atau jam08.00 baru dimulai. Saat yang mendebarkan bagi para engineer roket LAPAN.
Berikut ini spesifikasi roket yang diluncurkan:
ROKET RX70 (100% LOCAL CONTENT)
| Uraian | RX 70 LOCON |
| Misi | All system acceptance test |
| Panjang total | 1358 mm |
| Diameter luar roket | 70 mm |
| Berat total | 9.6 kg |
| Jenis propelan | HTPB |
| Berat propelan | 2 kg |
| Grain propelan | Bintang 8 |
| Bahan tabung motor | ASTM A312 |
| Thrust rata-rata | 210 kgf |
| Tekanan ruang bakar rata2 | 58 atm |
| Burning time | 1.6 detik |
| Prediksi ketinggian | 2.4 m |
| Mass ratio | 0.46 |
| Diagnostic payload | 0.24 kg |
| Potential payload | 0.6 kg |
| Prediksi jarak jangkau | 8.6 km |
ROKET RX320 (ROKET BALISTIK)
| Uraian | RX 3228.02.01 |
| Misi | UJI KUALIFIKASI SISTEM |
| Panjang total | 4755 mm |
| Diameter luar roket | 320 mm |
| Berat total | 598 kg |
| Jenis propelan | HTPB |
| Berat propelan | 254 kg |
| Grain propelan | Konfig. Ganda |
| Bahan tabung motor | ASTM A312 |
| Thrust rata-rata | 3500 kgf |
| Tekanan ruang bakar rata2 | 80 atm |
| Burning time | 13 detik |
| Prediksi ketinggian | 15 km |
| Mass ratio | 0.46 |
| Diagnostic payload | 10 kg |
| Potential payload | 65 kg |
| Prediksi jarak jangkau | 42 km |
ROKET RKX 10T03 (ROKET KENDALI)
| Uraian | RKX TO3 & TO4 |
| Panjang | 1725 mm |
| Letak COG | 101 cm |
| Diameter | 114 mm |
| Berat total | 33.16 kg |
| Bahan Material | SSA 304 |
| Panjang propelan | 400 mm |
| Diameter propelan | 100 mm |
| Thrust rata-rata | 275 kgf |
| Konfigurasi grain | STAR-7 |
| Burning time | 2.5 detik |
ROKET UJI MUATAN (RUM)
Panjang roket : 1145 mm
Diameter roket : 76 mm
Berat roket : 4500 mm
Berat propelan : 1000 gram
Panjang propelan : 110 mm
Prediksi ketingggian : 1 km
Roket jenis RUM inilah yang akan dilombakan dalam lomba uji muatan roket antaruniversitas di Jogja. Wanna participate?
“Tim SAE, Tim engineer, segera meninggalkan Ground ZERO ZERO menuju SAFETY AREA. Bunyikan alarm 3 kali. Tekan tombol FIRING. Hitung mundur 20 detik. 20…10,9,8,7,6,5,4,3,2,1…GO…!!!”
Dan wuuuzzzzzzzzz……
Satu per satu dari 14 roket pun diluncurkan…
Selepas dhuhur, kami pun kembali ke Bogor. Kali ini aku dan Diva nebeng mobil staff LAPAN. Andi dan Ican nebeng mobil si bos.
Perjalanan yang panjang. Dan setelah tersadar, jalan yang kami lalui malam2 (diceritakan di episode 1) itu, dari Pameungpeuk ke Garut, melewati gunung dengan jurang2 terjal yang mempunyai sekitar 400 tikungan (menurut informasi dari orang LAPAN…kurang kerjaan banget ngitungin tikungan..). Kalau sepanjang perjalanan liat jalan terus, dijamin bakalan mual truz muntah…buset dah… Aku, Diva, dan Ican gak abis pikir, bisa2nya Andi idup di daerah ini, gemuk lagi…
“Yah nenek moyang asli sini. Mo gimana lagi??” kata Andi pasrah.
Setelah melewati banyak TOL, akhirnya kami sampai di Bogor jam 23.00. Sholat Isya’ dijama’ ma Maghrib, gosok gigi, tanpa mandi, langsung tergeletak bobo’ sampai pagi…
Baru lima hari kami lalui. Masih ada sekitar 25 hari lagi yang harus kami perjuangkan di sini…
To be continue…