“Sayang Padaku”
Duka derita
Duka laraku di dunia
Tidak lah aku sesali
Juga tak akan aku tangisi
Sesakit apapun yang kurasakan
Dalam hidupku
Semoga tak membuatku kehilangan jernih jiwaku
Andaikan dunia mengusir aku dari buminya
Tak akan aku merintih juga
Tak akan aku menangis
Ketidakadilan yang ditimpakan oleh manusia
Bukanlah alasan bagiku
Untuk membalasnya
Asalkan karena itu
Tuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendaknya
Menjadi surga bagi jiwaku
Bukanlah apa kata manusia
Yang ku ikuti
Tetapi pandangan Allah Tuhanku
Yang ku takuti
Ada tiadaku
Semata-mata milikNya jua .
*********************************************************************************
Lirik lagu diatas barangkali cocok bagi kita semua. Dan memang seharusnya begitu. Di samping indah kata-katanya, sarat makna pula. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Novia Kolopaking dengan iringan musik dari Kyai Kanjeng.
Kita semestinya memang Cuma takut pada pandangan Allah. Semua yang kita lakukan mustinya dengan perspektif Tuhan. Sebelum kita berbuat mustinya kita selalu berpikir, apakah Tuhan senang dengan apa yang akan kita lakukan? Ataukah Tuhan justru akan murka?
Nyatanya, kita seringkali bertindak atas perspektif manusia. Siapapun manusianya. Atasan di kantor. Presiden. Menteri. Gubernur. Bupati. Bapak. Ibu. Istri. Suami. Anak. Bahkan tetangga. Kita amat sering melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu karena manusia. Atau biasa disebut ‘riya’. Atau bisa jadi kita juga sering melakukan sesuatu bukan karena manusia, juga bukan karena Allah. Tapi, ya, dilakukan saja. Tanpa peduli apa dampaknya nanti. Tanpa peduli pandangan manusia, apalagi pandangan Tuhan. Naudzubillah.
Mengapa kita perlu melakukan sesuatu dengan pertimbangan Tuhan?Karena kita bisa membohongi manusia. Tapi tak bisa membohongi Tuhan.
Karena kita bisa bersembunyi dari manusia. Tapi tak bisa bersembunyi dari Tuhan.
Karena kita bisa lari sejauh-jauhnya dari hukum manusia. Tapi tak bisa lari dari hukum Tuhan.
Dan karena kita semua akan kembali kepadaNya. Dan akan menghadapi pengadilanNya yang Maha Adil.
Melakukan sesuatu tanpa mempedulikan pendapat Tuhan, akan menimbulkan kerusakan di muka bumi. Apakah para koruptor mempertimbangkan tindakannya dengan pandanganTuhan, saat mencuri uang rakyat? Apakah perusak hutan, mempertimbangkan pendapat Tuhan, yang justru telah menunjuk manusia sebagai khalifah di bumi? Apakah para pezina mempertimbangkan pendapat Tuhan yang telah menciptakan manusia lebih tinggi derajatnya dari hewan? Namun, manusia sering kali menyamakan derajatnya dengan binatang. Astaghfirullah.
Yah. Kita semua musti bertindak dengan terlebih dahulu memikirkan apakah tindakan kita bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain? Apakah tindakan kita akan membawa kebaikan bagi kita, di dunia dan di akhirat?
Jika sudah demikian, maka terbuktilah cinta kita kepada Tuhan. Kepada Allah SWT. Seperti yang di sebutkan pada lirik lagu yang berjudul “Sayang Padaku” di atas. Tak peduli dengan segala perih, sakit hati, penderitaan, keterasingan dari dunia, ketidakadilan oleh manusia. Yang penting, Tuhan jadi sayang kepada kita melalui segala ujian dan cobaan itu. Ya, karena sejatinya, musibah, ujian, cobaan itu merupakan tanda cinta Allah kepada manusia. Itu artinya Allah masih perhatian kepada kita. Jika seseorang menyerah, kalah terhadap ujian itu, dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai Tuhan, maka orang tersebut kalah, tidak naik kelas.
Dan kalau sudah saking cintanya sama Allah, maka apa kata manusia, terutama yang menjatuhkan, tak akan lagi mempengaruhi kita secara signifikan. Karena yang ditakuti Cuma pandangan Allah. Dan bukan mengikuti pandangan manusia.
Maka amatlah mencintai Allah. Coba baca lagi lirik di atas, akan seperti muncul energi yang luar biasa, yang membuat kita memandang kehidupan ini secara SEDERHANA saja.
Energi itu adalah energi cinta. Cinta yang amat sangat kepada Allah. Yang akan membuat kita ringan saja menjalani hidup yang kadang amat berat. Yang juga akan membuat kita berdiri tegap dengan wajah berseri, menatap dunia, dan tersenyum, sambil berkata “ Hai dunia, kau tak akan mampu membuatku menyerah kepadamu”.