welcome to my world...

Saat senja menyemburat jingga...kembalilah...
Saat senja menyemburat jingga...menyerahlah pada kelamnya malam...
Saat senja menyemburat jingga...biarkan bintang yang ganti bekerja...
Saat senja menyemburat jingga...kembali hadapkanlah wajahmu kepadaNya...
Dan saat senja menyemburat jingga...menangis dan bersandarlah pada Sang Pencipta...
Sebagai tanda syukur atas hari ini...

Rabu, 24 November 2010

Karena Saking Cintanya...

“Sayang Padaku”

Duka derita
Duka laraku di dunia
Tidak lah aku sesali
Juga tak akan aku tangisi
Sesakit apapun yang kurasakan
Dalam hidupku
Semoga tak membuatku kehilangan jernih jiwaku

Andaikan dunia mengusir aku dari buminya
Tak akan aku merintih juga
Tak akan aku menangis
Ketidakadilan yang ditimpakan oleh manusia
Bukanlah alasan bagiku
Untuk membalasnya

Asalkan karena itu
Tuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendaknya
Menjadi surga bagi jiwaku

Bukanlah apa kata manusia
Yang ku ikuti
Tetapi pandangan Allah Tuhanku
Yang ku takuti
Ada tiadaku
Semata-mata milikNya jua .
*********************************************************************************

Lirik lagu diatas barangkali cocok bagi kita semua. Dan memang seharusnya begitu. Di samping indah kata-katanya, sarat makna pula. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Novia Kolopaking dengan iringan musik dari Kyai Kanjeng.

Kita semestinya memang Cuma takut pada pandangan Allah. Semua yang kita lakukan mustinya dengan perspektif Tuhan. Sebelum kita berbuat mustinya kita selalu berpikir, apakah Tuhan senang dengan apa yang akan kita lakukan? Ataukah Tuhan justru akan murka?

Nyatanya, kita seringkali bertindak atas perspektif manusia. Siapapun manusianya. Atasan di kantor. Presiden. Menteri. Gubernur. Bupati. Bapak. Ibu. Istri. Suami. Anak. Bahkan tetangga. Kita amat sering melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu karena manusia. Atau biasa disebut ‘riya’. Atau bisa jadi kita juga sering melakukan sesuatu bukan karena manusia, juga bukan karena Allah. Tapi, ya, dilakukan saja. Tanpa peduli apa dampaknya nanti. Tanpa peduli pandangan manusia, apalagi pandangan Tuhan. Naudzubillah.

Mengapa kita perlu melakukan sesuatu dengan pertimbangan Tuhan?

Karena kita bisa membohongi manusia. Tapi tak bisa membohongi Tuhan.
Karena kita bisa bersembunyi dari manusia. Tapi tak bisa bersembunyi dari Tuhan.
Karena kita bisa lari sejauh-jauhnya dari hukum manusia. Tapi tak bisa lari dari hukum Tuhan.
Dan karena kita semua akan kembali kepadaNya. Dan akan menghadapi pengadilanNya yang Maha Adil.

Melakukan sesuatu tanpa mempedulikan pendapat Tuhan, akan menimbulkan kerusakan di muka bumi. Apakah para koruptor mempertimbangkan tindakannya dengan pandanganTuhan, saat mencuri uang rakyat? Apakah perusak hutan, mempertimbangkan pendapat Tuhan, yang justru telah menunjuk manusia sebagai khalifah di bumi? Apakah para pezina mempertimbangkan pendapat Tuhan yang telah menciptakan manusia lebih tinggi derajatnya dari hewan? Namun, manusia sering kali menyamakan derajatnya dengan binatang. Astaghfirullah.

Yah. Kita semua musti bertindak dengan terlebih dahulu memikirkan apakah tindakan kita bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain? Apakah tindakan kita akan membawa kebaikan bagi kita, di dunia dan di akhirat?

Jika sudah demikian, maka terbuktilah cinta kita kepada Tuhan. Kepada Allah SWT. Seperti yang di sebutkan pada lirik lagu yang berjudul “Sayang Padaku” di atas. Tak peduli dengan segala perih, sakit hati, penderitaan, keterasingan dari dunia, ketidakadilan oleh manusia. Yang penting, Tuhan jadi sayang kepada kita melalui segala ujian dan cobaan itu. Ya, karena sejatinya, musibah, ujian, cobaan itu merupakan tanda cinta Allah kepada manusia. Itu artinya Allah masih perhatian kepada kita. Jika seseorang menyerah, kalah terhadap ujian itu, dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai Tuhan, maka orang tersebut kalah, tidak naik kelas.
Dan kalau sudah saking cintanya sama Allah, maka apa kata manusia, terutama yang menjatuhkan, tak akan lagi mempengaruhi kita secara signifikan. Karena yang ditakuti Cuma pandangan Allah. Dan bukan mengikuti pandangan manusia.

Maka amatlah mencintai Allah. Coba baca lagi lirik di atas, akan seperti muncul energi yang luar biasa, yang membuat kita memandang kehidupan ini secara SEDERHANA saja.

Energi itu adalah energi cinta. Cinta yang amat sangat kepada Allah. Yang akan membuat kita ringan saja menjalani hidup yang kadang amat berat. Yang juga akan membuat kita berdiri tegap dengan wajah berseri, menatap dunia, dan tersenyum, sambil berkata “ Hai dunia, kau tak akan mampu membuatku menyerah kepadamu”.

Senin, 08 November 2010

(Ternyata) Ini Bukan Semata Masalah Cantik

Saya baru saja menghadiri sebuah acara yang dihadiri oleh banyak orang termasuk pejabat pemerintah kota Jogjakarta. Sejenak saya mengamati orang-orag yang datang. Lelaki,perempuan. Tua,muda. Hitam, putih, coklat, kemerahan. Benar-benar beragam. Tapi kemudian saya terpikir untuk lebih banyak mengamati wanitanya.

Kadang kita (para wanita) merasa perlu memeperbaiki penampilan. Yaa, jangan sampai tabaruj (berlebihan), tapi paling tidak rapi lah. Bagaimana pun naluri wanita pasti ingin tampil "cantik", at least baik lah secara penampilan.Begitu pun saya. Karenanya, wanita sering kali jadi korban industri kosmetik.Sekarang yang menggelitik pikiran saya adalah bagaimana definisi cantik itu?

Semua orang bisa jadi punya definisi masing-masing tentang cantik. Begitupun saya. Bagi saya cantik itu cerdas,smart,punya karakter, sholihah, menjaga diri. Ya, bisa dibilang innerbeuty. Wanita yang cantik adalah yang bisa bersyukur kepada Tuhannya, seperti apa pun wujud muka dan tubuhnya. Wanita cantik itu adalah wanita yang bisa menjaga dirinya dari lelaki-lelaki yang bukan mahramnya. Wanita cantik itu adalah wanita yang tidak hanya mengandalkan kecantikan lahiriahnya saja, tapi juga cara berpikirnya. Wanita cantik itu cerdas.

Tapi lagi-lagi, tak bisa dipungkiri, bahwa media dan dunia ini telah meng-generalisasi-kan definisi cantik kepada semua wanita di dunia. Boneka Barbie, Kontes Ratu Sejagad, Kontes kecantikan, Iklan Kosmetik, dsb. telah membuat satu definisi cantik yang seragam: putih, tinggi, langsing, proporsional, rambut panjang, kaki panjang, kulit mulus. Lalu semua wanita berlomba menjadi demikian. Dengan berbagai motivasi tentunya. Dan salah satunya tentu untuk menarik perhatian lawan jenis.

Ketika saya mengamati wanita-wanita di sekeliling saya, pada acara yang saya hadiri kali ini, saya menemukan banyak sekali wanita "cantik". Cantik dalam hal penampilan. Ya. Dengan busana warna warni, jilbab warna warni, riasan warna warni. Semua cantik. Meskipun kata orang cantik itu relatif. Dan mungkin karena relatif inilah, nyatanya semua wanita, baik yang masuk kategori cantik ala masing-masing individu maupun cantik ala media, bisa menemukan lelaki pasangan hidupnya. Yup, jodoh.

Hahaha...jadi mau ngomongin masalah jodoh? Hehehe...
Tapi serius, saya benar-benar memikirkannya kala itu. Artinya jodoh itu benar-benar misteri Allah. Jodoh tidak bisa dihitung dengan matematika (apalagi fisika). Tidak bisa diprediksi dengan pasti.Cuma, jodoh punya rumus sendiri yang diformulasikan langsung oleh Allah bahwa wanita baik-baik adalah untuk lelaki yang baik pula (Q.S. An Nur: 26).

Jodoh adalah misteri. Seperti halnya mati dan rezeki. Namun, semua itu wajib diusahakan dengan maksimal. Jodoh adalah misteri, yang hanya Allah saja yang tau. Dan ini semakin diperkuat dengan pengamatan saya tadi. Wanita yang kita anggap jelek secara fisik, tetap saja bisa mendapatkan suami yang cakep. Atau sebaliknya. Jadi, sayapun berpikir, kenapa harus repot dengan apakah kita "cantik" atau tidak? mengapa kita (wanita) harus ribet dandan menor cuma untuk menarik perhatian lawan jenis, toh nantinya kita akan tetap mendapatkan jodoh kita, walaupun gak dandan.

Haha...jangan tersinggung dulu para wanita yang budiman. Bahwasanya itu semua adalah bentuk ikhtiyar alias usaha, that's okey. Pada akhirnya poin yang ingin saya sampaikan adalah, jodoh itu bukan semata perkara kecantikan fisik. Tapi ia adalah misteri Ilahi, yang patut kita usahakan, tanpa menyiksa diri, tanpa merubah kita -para wanita- menjadi orang lain, tanpa melanggar aturan dan norma-norma agama maupun norma di masyarakat.

Jodoh itu bukan di cari. Ia telah di sediakan Allah untuk kita. Jodoh cuma perlu dijemput...
Dan sekali lagi jodoh itu memang benar-benar misteri Allah.

We are beautifull
no matter what they say
words can't bring us down..

(Beautifull by Christina Aguilera)

Kamis, 04 November 2010

PEMUDA DAN IDEALISME... sebuah catatan kegelisahan_

Sumpah pemuda tahun ini memang sudah berlalu. Pada saat itu saya benar benar memikirkan pemuda bangsa ini. visualisasi pemuda daerah saya juga berkelebat di pikiran.

Di awal bulan oktober, saya menemui sekumpulan pelajar smp yang sedang berbincang tentang hari besar apa yang ada di bulan ini. masing-masing mereka lupa tanggal 28 oktober itu hari apa. Saya Cuma terseyum miris dan segera mengoreksi bahwa ada hari sumpah pemuda tanggal 28 oktober itu.

O iya ya. Itu komentar mereka.

Sebenarnya bukan masalah perayaan hari besar nasional atau sekedar upacara peringatannya. Namun, ini masalah kesadaran pemuda kita akan sejarah bangsa, yang mustinya memunculkan semangat perjuangan yang disesuaikan dengan masanya.
Kemudian beberapa stasiun televise swasta ramai-ramai mengangkat tema sumpah pemuda dalam liputan beritanya. Ada juga yang mengadakan survey seberapa hafalkah para pemuda dan pelajar akan teks sumpah pemuda. Dan, hasilnya seperti yang sudah diduga sejak awal bahwa banyak pemuda kita yang tidak hafal.
Lagi-lagi, ini bukan masalah hafal atau tidak nya para pemuda akan teks sumpah pemuda. Bukan pula masalah pemahaman kontekstual dari hasil kongres sumpah pemuda tahun 1928. Namun, ini masalah sejauh apa pemuda kita memahami esensi dari sumpah pemuda dan semangat apa atau pesan apa yang ingin disampaikan pemuda-pemuda peserta kongres kala itu.

Mengapa punya idealisme?

Hanya pemuda yang punya idealisme, yang bisa membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukannya. Tidak dipungkiri lagi bahwa, pemuda menjadi agent of change, akan menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Dan mereka yang menggenggam peradaban bukanlah pemuda ecek-ecek yang suka ikut-ikutan, ikut aliran arus, tidak punya prinsip, suka menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Mereka yang memimpin dunia adalah pemuda pemuda yang punya idealism.
Bukanlah pemuda biasa, yang mengikuti kongres pemuda kedua pada tahun 1928. Mereka adalah perwakilan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua panitianya adalah Soegondo Djojopuspito dari PPPI atau Persatuan Pelajar Pelajar Indonesia. Ada yang menarik disini, perwakilan pelajar memimpin sebuah kongres yang akan dikenang sepanjang masa oleh republik ini. saya Cuma bisa mengelus dada saat membayangkan pelajar kita sekarang.

Bagaimana dengan pelajar kita?

Mereka masih suka terkotak-kotak dalam geng atau fanatisme dangkal. Kadang yang membuat mereka tidak bersatu hanya karena beda merek mobil atau motornya. Embarrassing. Pemuda kita masih suka sok sokan memamerkan kekayaan orang tua mereka, membentuk kesenjangan social. Suka nongkrong nongkrong ga jelas di mall. Tawuran. Suka bermesraan dengan seseorang yang tidak jelas statusnya secara hukum (baca = pacar), di depan umum. Bangga dengan kesalahan mereka. Pakai narkoba dibilang keren. Kalo gak ngrokok dicap banci. Rajin sholat dikatai sok alim (mending, daripada sok jahat). Nyontek sudah jadi kebiasaan. Menghina guru atau orang tua dibilang berkuasa.

Ah, bangsa macam apa ini? Orang tua, keenakkan di atas jabatan, sedang yang muda sedikit sekali yang bisa diharapkan.

Bagaimana mungkin pelajar yang suka ngerokok dibilang punya idealism? Terhadap kesehatan mereka saja mereka tak punya idealisme. Bagaimana tukang nyontek bisa dibilang punya idealism? Terhadap diri mereka sendiri saja mereka tak bisa percaya. Bagaimana pemuda yang suka nongkrong ga jelas di mall bisa dibilang punya idealisme? Terhadap waktu mereka sendiri saja, mereka tak bisa gunakan dengan baik. Bagaimana pemuda yang jadi korban mode atau korban tren bisa dibilang punya idealisme? Mereka saja tak punya style sendiri yang bisa membuat mereka bermartabat dan berkarakter.

Itu mungkin hal-hal kecil yang sering luput dari pengamatan kita. Itu mungkin hal-hal yang sudah biasa kita maklumkan atas gejolak kawula muda. Namun, jika ini dibiarkan, kita tak akan bangkit. Apa harus menunggu sampai mereka tua, sehingga mereka punya prinsip dan pendirian sendiri, punya idealisme? Tidak. Pemuda musti punya idealisme sejak sekarang.

Pemuda yang punya idelisme lah yang menumbangkan pemerintahan Soekarno pada tahun 1966. Pemuda beridealisme pula yang menggulingkan rezim orde baru. Dan di seluruh belahan dunia, pemuda yang punya idealisme-lah yang akan menggenggam dunia. Yang membuat sejarah.

Idealisme macam apa?

Idealisme pemuda. Ya. Idealisme khas pemuda.
Pemuda itu cenderung bersih dari berbagai kepentingan. Pemuda cenderung gelisah melihat ketidakadilan, ketidakbenaran. Pemuda itu cenderung “keras kepala”, keukeuh menggenggam apa yang di anggapnya benar. Pemuda itu punya curiosity atau rasa keingintahuan yang tinggi. Pemuda itu cenderung punya semangat menuntut ilmu yang besar. Dan,itulah idealisme khas pemuda.

Pemuda itu harus punya karakter yang kuat. Dan sinyal ini nampaknya di baca oleh Kemenpora yang mengangkat tema pembangunan pemuda yang berkarakter, pada sumpah pemuda 2010.

Pada akhirnya, benar pula kata orang, yang menyatakan bahwa karakter pemuda di bentuk oleh zaman saat dia dilahirkan. Pemuda-pemuda penggagas kongres pemuda 1928 jelas lebih punya idealisme tentang kemerdekaan. Sebab mereka lahir pada masa penjajahan. Masa sulit. Jiwa pemuda mereka terpanggil untuk berontak. Begitu pula pemuda-pemuda dan anak-anak di Palestina. Mereka terlahir pada masa perang. Jelas jiwa pembebasan pemuda mereka terasah dan bangkit membentuk karakter mereka yang tangguh, mandiri, dan tidak takut mati demi kebenaran.

Beda halnya dengan pemuda Indonesia masa kini. Mereka terlahir pada masa yang serba enak. Masa serba aman. Dan masa serba nyaman. Tidak ada ancaman imperialisme. Akses informasi yang begitu kilat. Serta berbagai teknologi yang sudah berkembang hebat, yang ternyata punya dampak negative, membuat mereka cendcerung malas. Selain itu, pemuda kita juga cenderung kekanak-kanakan, manja, dan tidak mandiri. Maka dengan menanamkan idealisme pemuda sejak dini, pemuda kita akan menjadi pemuda berkarakter yang akan siap membangun bangsa dan negara ini di masa yang akan datang.

Tugas siapa?

Berbagai pihak tentunya harus ikut andil dalam membentuk pemuda yang punya idealisme ini. sekolah atau perguruan tinggi, sistem pendidikan yang mantab dan mengikutsertakan pendidikan kepribadian kepada pelajar dan mahasiswa. Lingkungan rumah dan sekolah yang mendukung. LSM atau NGO kepemudaan sebagai support system. Dan yang paling penting adalah KELUARGA atau ORANG TUA, yang punya peran paling besar membentuk putra-putrinya menjadi pemuda beridealisme, pemuda berkarakter. Penanaman nilai-nilai mulia yang berawal dari keluarga, kasih sayang, pendidikan kedisiplinan dan kepemimpinan yang efektif, serta sistem pengawasan yang baik, akan sangat menunjang pembentukan karakter pemuda.

Bangkitlah pemuda pemudi Indonesia!!!!

Jumat, 08 Oktober 2010

life is getting harder... huft...

well...
i try to keep on smiling
while i'm bleeding inside...

ada suatu saat dalam hidup
dimana kita lupa pada apa yang akan kita tuju...

semacam disorientasi kehidupan

hingga akhirnya jadi
apatis
gak peduli
menyendiri
bingung
melamun...

kepala terasa berat
kantung mata tak lagi mampu menahan air mata
meskipun mungkin tak tau apa yang sebenarnya di tangisi...

dan saat itu tiba
yang kita butuhkan hanya
diam...

berdiam diri sejenak
reorientasi...
dan memutus hubungan dengan penilaian negatif manusia kepada diri kita

aku tidak peduli dengan bagaimana nantinya omongan orang tentang tindakan ku
jika ini adalah kebenaran
so i'll keep on standing on it..
karena aku lelah...
bahkan teramat jengah...
memikirkan apa yang mungkin ada di kepala orang lain...

satu-satunya yang harus kita pedulikan adalah pandangan Tuhan
pandangan Alloh atas apa yang kita lakukan...

and life is that simple...

Minggu, 19 September 2010

NYANYIAN ALAM

Kamis (16092010) pagi yang mendung. Aku memacu motor ke arah selatan, ke jalan Imogiri Timur, Yogyakarta. Hanya untuk menemui seorang teman untuk meminjam kamera digital. Setelah itu, ku tarik gas motor ku dengan kuat membelah Jogja, menuju gunung Merapi.

Yap. Pagi itu, aku ingin hunting foto ke gunung merapi. kenapa ke sana?? Ya, ada kepentingan dengan konservasi alam di taman nasional gunung merapi. Sampai di jalan Kaliurang, sebenarnya nyali ku sudah ciut. Aku gentar menatap gunung merapi dari kejauhan, diselimuti awan putih yang tebal. Untuk sesuatu yang tak pasti. Jalan menuju ke sana saja aku agak lupa. Hanya untuk beberapa foto yang tak bisa kubayangkan dengan jelas foto seperti apa yang akan ku peroleh. Namun, ku kuatkan hati. Bahwa ini lah seninya. Pada perjuangan untuk mendapatkan foto itu sendiri. Maka makin ku tambah kelajuan sepeda motorku.

Yang ada di benakku saat itu adalah : cari rumah mbah maridjan--> menuju jalur pendakian (gak usah jauh2)--> ambil beberapa foto --> pulang.

Mulai lah aku tanya-tanya ke orang-orang sekitar, jalan untuk menuju rumah mbah marijan. Dan akhirnya ku temukan. Di sana, cuma buat parkir motor. lalu menyiapkan camera seadanya (dapet pinjeman camdig dgn resolusi 5mpx...hmmm). dan mulailah pendakian. Sambil mengucap doa, Ya Alloh berikanlah cahaya mataharimu untuk memberi pencahayaan alami pada fotoku. Amin.

Hosh..hosh..baru naik dikit udah ngos-ngosan. Ya Alloh, bener-bener dah kelebihan lemak nih. Mana napas tinggal setengah setengah (gara-gara hidung tersumbat akibat flu). Tapi perjalanan masih jauh, musti kuat nih. Naik dan terus naik. Lalu nemu jalan setapak, yang mungkin biasa digunakan jalan oleh warga sekitar saat nyari rumput di gunung. Di situ lah aku putuskan untuk menjadi lokasi huntingku kali ini. Orang-orang yang berpapasan dengan ku agak merasa aneh nampaknya. Ngapain ni perempuan di gunung sendirian?? Orang bukan ya?? mungkin itu yang ada di benak mereka.

Agaknya aku tau kecurigaan mereka. Maka aku pun bertindak amat ramah. Menyapa, basa-basi dikit. Dan semuanya kembali normal. I'm a human,guys.

Dan inilah beberapa hasilnya...(dengan sedikit editing dengan Sotosop lightroom)















Alhamdulillah, bisa mengabadikan tanda-tanda kebesaran Alloh di alam raya ini dalam sebuah foto...
Pesan sponsor : JAGALAH LINGKUNGAN. JAGALAH HUTAN. SAYANGI BUMI. KEEP THE EARTH GREEN !!!

Senin, 06 September 2010

Satu Foto...Berjuta Cerita...

Yah...satu foto...berjuta cerita. Nyatanya, buat orang yang narsis atau yang sadar kamera atau yang pengen eksis terus, foto merupakan sarana yang amat pas untuk menunjukkan setiap ekspresi kita. Dan ternyata foto juga bisa menyampaikan berjuta cerita tiap jepretannya..

Dan akhirnya, saya jatuh cinta dengan fotografi. Saya mulai dari awal mempelajari teori-teori fotografi. Mengapresiasi setiap karya seni fotografi. Melihat karya2 para senior, termasuk mengikuti klinik fotografi di harian KOMPAS, setiap selasa.Bahkan, membeli majalah fotografi jadul, FOTOPLUS, di loakan. Dan akhirnya menyadari bahwa terus berlatih adalah kunci keberhasilan dalam menghasilkan karya seni fotografi yang baik.

Hhmmm...seni fotografi tentunya punya pendukung utama. tidak lain, tidak bukan, tentunya si KAMERA. Awalnya ingin sekali saya punya DSLR, tapi belum ada dana. Cerita punya cerita dgn sang ayah, ternyata ayahku masih menyimpan sebuah kamera antik. Kamera SLR Analog, YASHICA fx2000 SUPER, lensa YASHICA 50mm. Boleh juga lah buat menyalurkan hobby baru ku ini. Walaupun, musti punya modal yang lumayan setiap kali hunting, buat beli film dan cuci cetak.

Beberapa karya pertama masih kacau (sekarang pun masih...heheh), sekarang dah agak lumayan lah... Dan akhirnya saya ingin mempublikasikan beberapa hasil jepretan si Yashica di blog ini. Bukan apa-apa, cuma ingin berbagi. Ya, semangat berbagi memang selalu menginspirasi. Berharap ada yang mengapresiasi, ato paling tidak ada ya itu tadi, berbagi. Tanpa perlu diapresiasi.

Sadar betul saya, bahwa setiap orang bisa mempunyai penilaian berbeda terhadap suatu karya fotografi. Tentu tergantung keperluan foto itu dibuat, dan tergantung selera setiap orang yang melihatnya. Tapi, saran dan kritik yang membangun, pastilah amat berguna bagi saya yang baru belajar ini.

Meski tidak istimewa, foto-foto ini, bagi saya selalu bisa bercerita. Tentang apa saja. Cinta. Bahagia. Kesedihan. Kesepian. Syukur. Kenangan. Mimpi. Kerja keras. Realitas. Ironi. Kehidupan. Keindahan. Dan berjuta cerita lainnya...




saya memberinya judul : Aku ingin melihat dunia




yang ini, saya sebut : terus menunggumu...



kalo yang ini, pernah saya ikutkan di lomba sadar wisata 2010 dari KEMENBUDPAR, tapi saya tidak tau nasibnya...hehehe...
o ya, saya beri judul : Jogja, The City of Art...



ini juga saya ikutkan di lomba yang sama, berjudul : Kenangan Bersama Ayah...


masih banyak koleksi, tapi segitu dulu lah...kapan2 berbagi lagi.. :)
Benar kan?? Satu foto, berjuta cerita...

Jumat, 03 September 2010

FROM LAPAN WITH LOVE...episode.16..(terakhir deh,,insyaAlloh..)




oke...saya usahakan ini adalah episode terakhir dari cerita saya yang panjang ini.
Setelah hari minggu kemaren kita berwisata, hari Senin ini, kami benar-benar akan meninggalkan LAPAN Rumpin. Revisi laporan dah beres. Sudah dijilid dengan rapi. Dan tentunya sudah lolos pengujian oleh mas Adi dan Pak Edi Cahya. Setelah semua urusan administrasi oke, di kantor kami tinggal nyantai. Dan saat main ke warung emak, kami pamitan lagi, krn kemaren jumat belum jadi pulang.
ahh, sudahlah, singkatnya, hari senin ini akhirnya kami angkat kaki dari mess LAPAN Rumpin. Ada rasa haru, sedih, dan...bahagia mungkin. Sempat berpamitan dengan tetangga mess juga lho. Dan tentunya berpamitan dengan mas Fajar, sang penjaga mess.

Aku, Andi, dan Diva berangkat naik angkot ke Serpong dulu. Aku ke stasiun Serpong, naik KRL jurusan Jakarta.Andi dan Diva ke terminal Pulo Gadung,Jakarta.

Aku turun di Stasiun Tanah Abang Jakarta, trus naik taksi ke Stasiun Ps.Senen, soalnya kereta bisnis ke Jogja berangkat dari sana. Tiket kereta sudah ku percayakan sebelumnya ke Ican yang dah duluan di Jakarta. Tapi ku tunggu2 di Stasiun Ps. Senen, Ican kagak ngongol-nongol. Be Teeeee buangettt. Sampai maghrib Ican belum dateng. Aku dah keringet-dingin-an, deg-degan, khawatir, cemas, bingung, dsb. Padahal kereta ke Jogja berangkat jam19.00.

Akhirnya sekitar jam 18.00 lebih, my most wanted person alian si Ican dateng. Mukanya emang keliatan merasa bersalah banget sih. Tapi dah keburu dongkol. Sebel banget. Langsung aja ku samber tiket di tangan Ican dan bergegas masuk peron, tanpa meninggalkan senyum dan sepatah kata pun ke Ican (kasian juga sih sebenernya, tapi kami akur lagi kok setelah itu...)

Sampai di peron, duduk2 dulu. Kereta ke Jogja dah dateng, jam 19.00 tepat akan segera berangkat. Jam 18.50, adzan isya berkumandang, karena tadi sholatnya gak di 'jama', maka aku sholat isya dulu berjamaah di masjid stasiun Senen. selesai sholat. kereta dah mo berangkat. bener2 dah mulai jalan.Waaaaaaaaaaaaa... aku ketinggalan kereta...

Ahh, gak juga, gak separah itu kok. Kereta memang sudah bergerak saat itu, tapi masih pemanasan. Masih sempat ku kejar. Ya, aku mengejar kereta. Untunlah masih bisa naik di gerbong paling belakang, kalo ga salah serbong 6 atau 7, atau 8 ya?? pokoknya paling belakang. Padahal, sodara-sodara, aku dapet tempat duduk di gerbong 2. Jadi aku musti jalan, menyusuri gerbong kereta dengan 1 tas ransel dan 1 tas jinjing yang buset berat buanget. Sampe orang2 pada ngeliatin tingkah anehku.. Tak apalah, setelah sampai di tempat duduk, langsung berniat untuk tidur. Bersiap menyambut mentari pagi di Jogja...

Hmm...cerita setelah sampai di Jogja tentunya sudah keluar konteks dan keluar dari tujuan awal cerita ini di buat. Akhirnya cerita petualangan kami berempat berakhir. Andi mungkin sudah sampai di Pameungpeuk, dan Diva juga mungkin sudah sampai di Banjarnegara.

Sejak awal proses KP, sampai pulang lagi ke JOgja, petualangan KP ini punya pengaruh buat masing2 diri kami. FROM LAPAN WITH LOVE. Aku sendiri gak tau mengapa aku memilih judul ini, cuma kalimat itu yang terlintas di kepala saat ingin menulis cerita KP ini. Bagi sebagian orang mungkin gak penting, tapi nyatanya bagi segelintir orang, termasuk aku, mengabadikan cerita pengalaman hidup ke dalam sebuah cerita begitu penting. Karena di suatu hari nanti, memori tentang sepenggal kisah hidup yang telah terlewat akan muncul, dan akan menjadi sangat menarik. Jadi, apa salahnya berbagi?

Mengapa membawa cinta dari LAPAN? Bukan apa-apa. Ini bisa bermakna banyak. Cinta kepada persahabatan. Cinta kepada ILMU. Cinta kepada bangsa dan negara ini (agak maksa ya..).Cinta kepada roket. Dan yang paling utama cinta kepada Alloh, yang senantiasa menjaga kami. Dan cinta-cinta yang lain.. Dan pengalaman di LAPAN inilah yang mengantarkan aku pada tahapan terakhir kuliahku. Ya, aku memilih minat fisika material dan instrumentasi, yang akhirnya mengerjakan aplikasi sensor dan mikrokontroler untuk 'final project'ku. (Semoga bisa segera ku tuntaskan. amin.)

Beginilah akhirnya. Biasa saja. Memang. Tak apalah. Semoga bisa bermanfaat.

Yesi wanna thanks to :
1. Alloh SWT
2. Kabag TU PUSTERAPAN, Bpk. Edi Sutanta
3. Kabid inwagan LAPAN, Bpk. Momon
4. Pak Edi Cahya
5. Mas Adi Wirawan
6. Pak Sunar
7. Pak Agus
8. Pak Ari, Kabid Komputasi
9. Pak Deden dan staf lab lainnya
10. Pak Ustadz,dkk di Curug
11.Emak dan Teteh di kantin inwagan
12.Pemeran Utama cerita ini: Andi, Ican, Diva.
13.dan semua pihak yang langsung atau tidak menjadi bagian dari cerita hidup kami.

Terima kasih semuanya...

dan inilah original soundtrack dari KP di LAPAN...
Lembayung Bali by Saras Dewi


mengapa pilih lagu ini? ini sangat berhubungan dengan Diva. hehehe...

THE END

Senin, 01 Maret 2010

FROM LAPAN WITH LOVE...episode.15..

akhirnya ku sentuh juga blog-ku ini,setelah hampir satu tahun ku tinggalkan. meskipun ga ada yg baca...(kasian bgt seh!!) tapi aku masih bersemangat untuk berbagi. ehm...sebelum aku memperbaiki konten di blog biasa ini, aku ingin meneruskan cerita dari LAPAN. meskipun dah jadi cerita yang tua bin jadul (dah dua tahun yg lalu.red), dan meskipun aku sudah tak lagi ingat tiap detail peristiwanya,tapi ada beban moral yang memaksaku untuk menamatkannya. oke, cek dis ot..

Aaarrrrggghhhhhh...tak tau lah sekarang hari keberapa,hari apa, dan tanggal berapa. yang ku ingat adalah,,pada hari jumat, kami batal pulang, ican ma diva marahan, ican cabut ke jakarta, tinggallah kami bertiga di mess. Jumat malam,kalo gak salah (berarti benar ^^), kami berkunjung ke rumah pak Edi Sutanta lagi. Masih ingat? beliau adalah KASUBAG TU PUSTERAPAN LAPAN. Di sambutlah kami di kantornya. seperti biasa, beliau lembur. Kami bermaksud memperpanjang masa kontrak kami untuk tinggal di mess, karena kami batal pulang. Ah, tentu saja diperbolehkan, walaupun sebenarnya di mess itu sudah ada tamu baru yang mau menempati. Sebab tampang memelas kami sebagai mahasiswa dan mahasiswi yang selama sebulan telah "tersesat", diizinkanlah kami tetap tinggal maksimal sampai dari senin."oke Pak. Senin, insyaAllah kami akan angkat kaki dari sini..hiks..."

Esok paginya, berarti hari sabtu ya??kita ngapain yah??
ahh,aku lupa,ini memgindikasikan bahwa tak ada 'something special' di hari ini. paling menghabiskan waktu di mess doang...nyuci, ngegame, ngobrol-ngobrol,dan semacamnya...Langsung lanjut ke hari minggu aja deh...sepertinya ada yang spesial di hari itu...hehehe

Hari minggu..jreng,,jreng,,!!!
Karena batal balik hari jumat, kami memutuskan untuk berwisataaaaaaaaaaaaa... And our destination is...KEBUN RAYA BOGOR... kedengarannya sangat biasa ya?? tapi, biarlah...aku juga belum pernah ke sana kog,,jadinya aku paling semangat deh...

Dari mess LAPAN, naek angkot ke Serpong, biz itu naek bis ke Bogor kota, trus naek angkot ke kebun raya. Sempet liat-liat kijang di istana negara dulu, biz itu beli tiket kebun raya. O ya saat itu, cuma aku, diva, dan andi yang berangkat bareng.. Ican bakalan nyusul.

Ahh,rindangnya...semua nampak hijau,kecuali aku yang pake baju dan jilbab ungu, dan tentunya kecuali pengunjung yang ga pake baju hijau. Perjalanan di mulai dari pintu masuk, dan kami bingung, berdiam diri di pertigaan memandang peta kebun raya yang sangat luas.

"aha..kita ke sana saja" yang kami tunjuk pertama adalah lokasi....MUSHOLLA... Karena emang sepertinya pas nyampe sana dah masuk waktu sholat dhuhur.So, kami sholat dulu,biasalah, absen siang.

Selesai sholat, kami menuju kolam teratai, yang berada persis di belakang istana bogor. Sayangnya, istana bogor tidak boleh di akses oleh sembarang orang(ya iya lah,,emangnya rumah gue..). Akhirnya kami nongkrong di pinggir kolam doang, foto-foto, makan es krim dan cemilan.

Dari kolam teratai kami menuju taman bunga raflesia (apa bunga bangkai ya? yah something like that lah..). Tapi ternyata bunganya belum mekar. susah juga sih kalo udah mekar,tar malah aku bingung gimana bedain bau bunga bangkai dan bau badan andi...hehehe..(piss boz ^^v)

Kecewa dengan bunga raksasa yang belum mekar, kami menuju ke kebun palem. Eh, sebelum ke sana, ternyata Ican sudah menyusul di belakang kami.Okelah,,lanjut ke kebun palem, terus foto-foto ma pohon raksasa, lalu menuju jembatan merah.

Hhhhmmm, di jembatan merah inilah, lokasi foto yang paling asik. Masing-masing kami, foto-foto sesuka hati, walau baterai kamera dah sekarat.Sampai akhirnya kamera itu pingsan akibat kehabisan tenaga, barulah kami berhenti.

Puas foto-foto, kami jalan-jalan lagi,menuju musholla lagi. Karena sudah masuk waktu ashar, dan kami juga berniat segera pulang.

Sholat udah, tinggal kami menuju jalan keluar dari kebun raya. Bye bye kebun raya... See U next time..

Eits,tunggu dulu. Sebelum pulang, ada baiknya beli oleh-oleh, souvenir khas kebun raya bogor dulu. Gantungan kunci, suling, tas, dsb. Bukti sayang kami pada orang-orang terdekat yang hendak kami bagikan oleh-oleh.^_^

Kami jalan kaki menuju terminal Baranang Siang Bogor yang letaknya tak begitu jauh dari KEBUN RAYA. Mampir dulu sejenak di Botani Square, semacam mall nya IPB (ya gak sih? kapan UGM punya yang kayak gitu,,,hhhhh~_~), cuma buat ngambil duit di ATM. Kemudian lanjutkan perjalanan ke terminal. Naik bus dari shelter di terminal, terus ke Curug, ke Workshop. Masih ingat workshop? tempat pertama kami tinggal setelah menginjakkan kaki di Bogor, yang berjarak hanya sepelemparan batu dari rumah si bos. Kami berniat pamit ma orang-orang workshop plus minta maaf. Sampai di workshop dah maghrib, sempet mampir di masjid buat sholat.

Pulang dari workshop sudah lepas adzan isya, sholat sekalian, lalu melanjutkan perjalanan pulang ke Rumpin. Dari Curug ke Parung naik angkot. Dari Parung ke Serpong naik bis. Dari Serpong ke Rumpin naik angkot. Sampailah kami di mess. Sudah malam. Sikat gigi, cuci kaki, dan zzzzzzzzzzzzzzzzzz....

Tinggal satu cerita lagi deh...insyaAllah...sabar yah...
To be continued...