welcome to my world...

Saat senja menyemburat jingga...kembalilah...
Saat senja menyemburat jingga...menyerahlah pada kelamnya malam...
Saat senja menyemburat jingga...biarkan bintang yang ganti bekerja...
Saat senja menyemburat jingga...kembali hadapkanlah wajahmu kepadaNya...
Dan saat senja menyemburat jingga...menangis dan bersandarlah pada Sang Pencipta...
Sebagai tanda syukur atas hari ini...

Minggu, 19 September 2010

NYANYIAN ALAM

Kamis (16092010) pagi yang mendung. Aku memacu motor ke arah selatan, ke jalan Imogiri Timur, Yogyakarta. Hanya untuk menemui seorang teman untuk meminjam kamera digital. Setelah itu, ku tarik gas motor ku dengan kuat membelah Jogja, menuju gunung Merapi.

Yap. Pagi itu, aku ingin hunting foto ke gunung merapi. kenapa ke sana?? Ya, ada kepentingan dengan konservasi alam di taman nasional gunung merapi. Sampai di jalan Kaliurang, sebenarnya nyali ku sudah ciut. Aku gentar menatap gunung merapi dari kejauhan, diselimuti awan putih yang tebal. Untuk sesuatu yang tak pasti. Jalan menuju ke sana saja aku agak lupa. Hanya untuk beberapa foto yang tak bisa kubayangkan dengan jelas foto seperti apa yang akan ku peroleh. Namun, ku kuatkan hati. Bahwa ini lah seninya. Pada perjuangan untuk mendapatkan foto itu sendiri. Maka makin ku tambah kelajuan sepeda motorku.

Yang ada di benakku saat itu adalah : cari rumah mbah maridjan--> menuju jalur pendakian (gak usah jauh2)--> ambil beberapa foto --> pulang.

Mulai lah aku tanya-tanya ke orang-orang sekitar, jalan untuk menuju rumah mbah marijan. Dan akhirnya ku temukan. Di sana, cuma buat parkir motor. lalu menyiapkan camera seadanya (dapet pinjeman camdig dgn resolusi 5mpx...hmmm). dan mulailah pendakian. Sambil mengucap doa, Ya Alloh berikanlah cahaya mataharimu untuk memberi pencahayaan alami pada fotoku. Amin.

Hosh..hosh..baru naik dikit udah ngos-ngosan. Ya Alloh, bener-bener dah kelebihan lemak nih. Mana napas tinggal setengah setengah (gara-gara hidung tersumbat akibat flu). Tapi perjalanan masih jauh, musti kuat nih. Naik dan terus naik. Lalu nemu jalan setapak, yang mungkin biasa digunakan jalan oleh warga sekitar saat nyari rumput di gunung. Di situ lah aku putuskan untuk menjadi lokasi huntingku kali ini. Orang-orang yang berpapasan dengan ku agak merasa aneh nampaknya. Ngapain ni perempuan di gunung sendirian?? Orang bukan ya?? mungkin itu yang ada di benak mereka.

Agaknya aku tau kecurigaan mereka. Maka aku pun bertindak amat ramah. Menyapa, basa-basi dikit. Dan semuanya kembali normal. I'm a human,guys.

Dan inilah beberapa hasilnya...(dengan sedikit editing dengan Sotosop lightroom)















Alhamdulillah, bisa mengabadikan tanda-tanda kebesaran Alloh di alam raya ini dalam sebuah foto...
Pesan sponsor : JAGALAH LINGKUNGAN. JAGALAH HUTAN. SAYANGI BUMI. KEEP THE EARTH GREEN !!!

Senin, 06 September 2010

Satu Foto...Berjuta Cerita...

Yah...satu foto...berjuta cerita. Nyatanya, buat orang yang narsis atau yang sadar kamera atau yang pengen eksis terus, foto merupakan sarana yang amat pas untuk menunjukkan setiap ekspresi kita. Dan ternyata foto juga bisa menyampaikan berjuta cerita tiap jepretannya..

Dan akhirnya, saya jatuh cinta dengan fotografi. Saya mulai dari awal mempelajari teori-teori fotografi. Mengapresiasi setiap karya seni fotografi. Melihat karya2 para senior, termasuk mengikuti klinik fotografi di harian KOMPAS, setiap selasa.Bahkan, membeli majalah fotografi jadul, FOTOPLUS, di loakan. Dan akhirnya menyadari bahwa terus berlatih adalah kunci keberhasilan dalam menghasilkan karya seni fotografi yang baik.

Hhmmm...seni fotografi tentunya punya pendukung utama. tidak lain, tidak bukan, tentunya si KAMERA. Awalnya ingin sekali saya punya DSLR, tapi belum ada dana. Cerita punya cerita dgn sang ayah, ternyata ayahku masih menyimpan sebuah kamera antik. Kamera SLR Analog, YASHICA fx2000 SUPER, lensa YASHICA 50mm. Boleh juga lah buat menyalurkan hobby baru ku ini. Walaupun, musti punya modal yang lumayan setiap kali hunting, buat beli film dan cuci cetak.

Beberapa karya pertama masih kacau (sekarang pun masih...heheh), sekarang dah agak lumayan lah... Dan akhirnya saya ingin mempublikasikan beberapa hasil jepretan si Yashica di blog ini. Bukan apa-apa, cuma ingin berbagi. Ya, semangat berbagi memang selalu menginspirasi. Berharap ada yang mengapresiasi, ato paling tidak ada ya itu tadi, berbagi. Tanpa perlu diapresiasi.

Sadar betul saya, bahwa setiap orang bisa mempunyai penilaian berbeda terhadap suatu karya fotografi. Tentu tergantung keperluan foto itu dibuat, dan tergantung selera setiap orang yang melihatnya. Tapi, saran dan kritik yang membangun, pastilah amat berguna bagi saya yang baru belajar ini.

Meski tidak istimewa, foto-foto ini, bagi saya selalu bisa bercerita. Tentang apa saja. Cinta. Bahagia. Kesedihan. Kesepian. Syukur. Kenangan. Mimpi. Kerja keras. Realitas. Ironi. Kehidupan. Keindahan. Dan berjuta cerita lainnya...




saya memberinya judul : Aku ingin melihat dunia




yang ini, saya sebut : terus menunggumu...



kalo yang ini, pernah saya ikutkan di lomba sadar wisata 2010 dari KEMENBUDPAR, tapi saya tidak tau nasibnya...hehehe...
o ya, saya beri judul : Jogja, The City of Art...



ini juga saya ikutkan di lomba yang sama, berjudul : Kenangan Bersama Ayah...


masih banyak koleksi, tapi segitu dulu lah...kapan2 berbagi lagi.. :)
Benar kan?? Satu foto, berjuta cerita...

Jumat, 03 September 2010

FROM LAPAN WITH LOVE...episode.16..(terakhir deh,,insyaAlloh..)




oke...saya usahakan ini adalah episode terakhir dari cerita saya yang panjang ini.
Setelah hari minggu kemaren kita berwisata, hari Senin ini, kami benar-benar akan meninggalkan LAPAN Rumpin. Revisi laporan dah beres. Sudah dijilid dengan rapi. Dan tentunya sudah lolos pengujian oleh mas Adi dan Pak Edi Cahya. Setelah semua urusan administrasi oke, di kantor kami tinggal nyantai. Dan saat main ke warung emak, kami pamitan lagi, krn kemaren jumat belum jadi pulang.
ahh, sudahlah, singkatnya, hari senin ini akhirnya kami angkat kaki dari mess LAPAN Rumpin. Ada rasa haru, sedih, dan...bahagia mungkin. Sempat berpamitan dengan tetangga mess juga lho. Dan tentunya berpamitan dengan mas Fajar, sang penjaga mess.

Aku, Andi, dan Diva berangkat naik angkot ke Serpong dulu. Aku ke stasiun Serpong, naik KRL jurusan Jakarta.Andi dan Diva ke terminal Pulo Gadung,Jakarta.

Aku turun di Stasiun Tanah Abang Jakarta, trus naik taksi ke Stasiun Ps.Senen, soalnya kereta bisnis ke Jogja berangkat dari sana. Tiket kereta sudah ku percayakan sebelumnya ke Ican yang dah duluan di Jakarta. Tapi ku tunggu2 di Stasiun Ps. Senen, Ican kagak ngongol-nongol. Be Teeeee buangettt. Sampai maghrib Ican belum dateng. Aku dah keringet-dingin-an, deg-degan, khawatir, cemas, bingung, dsb. Padahal kereta ke Jogja berangkat jam19.00.

Akhirnya sekitar jam 18.00 lebih, my most wanted person alian si Ican dateng. Mukanya emang keliatan merasa bersalah banget sih. Tapi dah keburu dongkol. Sebel banget. Langsung aja ku samber tiket di tangan Ican dan bergegas masuk peron, tanpa meninggalkan senyum dan sepatah kata pun ke Ican (kasian juga sih sebenernya, tapi kami akur lagi kok setelah itu...)

Sampai di peron, duduk2 dulu. Kereta ke Jogja dah dateng, jam 19.00 tepat akan segera berangkat. Jam 18.50, adzan isya berkumandang, karena tadi sholatnya gak di 'jama', maka aku sholat isya dulu berjamaah di masjid stasiun Senen. selesai sholat. kereta dah mo berangkat. bener2 dah mulai jalan.Waaaaaaaaaaaaa... aku ketinggalan kereta...

Ahh, gak juga, gak separah itu kok. Kereta memang sudah bergerak saat itu, tapi masih pemanasan. Masih sempat ku kejar. Ya, aku mengejar kereta. Untunlah masih bisa naik di gerbong paling belakang, kalo ga salah serbong 6 atau 7, atau 8 ya?? pokoknya paling belakang. Padahal, sodara-sodara, aku dapet tempat duduk di gerbong 2. Jadi aku musti jalan, menyusuri gerbong kereta dengan 1 tas ransel dan 1 tas jinjing yang buset berat buanget. Sampe orang2 pada ngeliatin tingkah anehku.. Tak apalah, setelah sampai di tempat duduk, langsung berniat untuk tidur. Bersiap menyambut mentari pagi di Jogja...

Hmm...cerita setelah sampai di Jogja tentunya sudah keluar konteks dan keluar dari tujuan awal cerita ini di buat. Akhirnya cerita petualangan kami berempat berakhir. Andi mungkin sudah sampai di Pameungpeuk, dan Diva juga mungkin sudah sampai di Banjarnegara.

Sejak awal proses KP, sampai pulang lagi ke JOgja, petualangan KP ini punya pengaruh buat masing2 diri kami. FROM LAPAN WITH LOVE. Aku sendiri gak tau mengapa aku memilih judul ini, cuma kalimat itu yang terlintas di kepala saat ingin menulis cerita KP ini. Bagi sebagian orang mungkin gak penting, tapi nyatanya bagi segelintir orang, termasuk aku, mengabadikan cerita pengalaman hidup ke dalam sebuah cerita begitu penting. Karena di suatu hari nanti, memori tentang sepenggal kisah hidup yang telah terlewat akan muncul, dan akan menjadi sangat menarik. Jadi, apa salahnya berbagi?

Mengapa membawa cinta dari LAPAN? Bukan apa-apa. Ini bisa bermakna banyak. Cinta kepada persahabatan. Cinta kepada ILMU. Cinta kepada bangsa dan negara ini (agak maksa ya..).Cinta kepada roket. Dan yang paling utama cinta kepada Alloh, yang senantiasa menjaga kami. Dan cinta-cinta yang lain.. Dan pengalaman di LAPAN inilah yang mengantarkan aku pada tahapan terakhir kuliahku. Ya, aku memilih minat fisika material dan instrumentasi, yang akhirnya mengerjakan aplikasi sensor dan mikrokontroler untuk 'final project'ku. (Semoga bisa segera ku tuntaskan. amin.)

Beginilah akhirnya. Biasa saja. Memang. Tak apalah. Semoga bisa bermanfaat.

Yesi wanna thanks to :
1. Alloh SWT
2. Kabag TU PUSTERAPAN, Bpk. Edi Sutanta
3. Kabid inwagan LAPAN, Bpk. Momon
4. Pak Edi Cahya
5. Mas Adi Wirawan
6. Pak Sunar
7. Pak Agus
8. Pak Ari, Kabid Komputasi
9. Pak Deden dan staf lab lainnya
10. Pak Ustadz,dkk di Curug
11.Emak dan Teteh di kantin inwagan
12.Pemeran Utama cerita ini: Andi, Ican, Diva.
13.dan semua pihak yang langsung atau tidak menjadi bagian dari cerita hidup kami.

Terima kasih semuanya...

dan inilah original soundtrack dari KP di LAPAN...
Lembayung Bali by Saras Dewi


mengapa pilih lagu ini? ini sangat berhubungan dengan Diva. hehehe...

THE END