welcome to my world...

Saat senja menyemburat jingga...kembalilah...
Saat senja menyemburat jingga...menyerahlah pada kelamnya malam...
Saat senja menyemburat jingga...biarkan bintang yang ganti bekerja...
Saat senja menyemburat jingga...kembali hadapkanlah wajahmu kepadaNya...
Dan saat senja menyemburat jingga...menangis dan bersandarlah pada Sang Pencipta...
Sebagai tanda syukur atas hari ini...

Rabu, 24 November 2010

Karena Saking Cintanya...

“Sayang Padaku”

Duka derita
Duka laraku di dunia
Tidak lah aku sesali
Juga tak akan aku tangisi
Sesakit apapun yang kurasakan
Dalam hidupku
Semoga tak membuatku kehilangan jernih jiwaku

Andaikan dunia mengusir aku dari buminya
Tak akan aku merintih juga
Tak akan aku menangis
Ketidakadilan yang ditimpakan oleh manusia
Bukanlah alasan bagiku
Untuk membalasnya

Asalkan karena itu
Tuhan menjadi sayang padaku
Segala kehendaknya
Menjadi surga bagi jiwaku

Bukanlah apa kata manusia
Yang ku ikuti
Tetapi pandangan Allah Tuhanku
Yang ku takuti
Ada tiadaku
Semata-mata milikNya jua .
*********************************************************************************

Lirik lagu diatas barangkali cocok bagi kita semua. Dan memang seharusnya begitu. Di samping indah kata-katanya, sarat makna pula. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Novia Kolopaking dengan iringan musik dari Kyai Kanjeng.

Kita semestinya memang Cuma takut pada pandangan Allah. Semua yang kita lakukan mustinya dengan perspektif Tuhan. Sebelum kita berbuat mustinya kita selalu berpikir, apakah Tuhan senang dengan apa yang akan kita lakukan? Ataukah Tuhan justru akan murka?

Nyatanya, kita seringkali bertindak atas perspektif manusia. Siapapun manusianya. Atasan di kantor. Presiden. Menteri. Gubernur. Bupati. Bapak. Ibu. Istri. Suami. Anak. Bahkan tetangga. Kita amat sering melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu karena manusia. Atau biasa disebut ‘riya’. Atau bisa jadi kita juga sering melakukan sesuatu bukan karena manusia, juga bukan karena Allah. Tapi, ya, dilakukan saja. Tanpa peduli apa dampaknya nanti. Tanpa peduli pandangan manusia, apalagi pandangan Tuhan. Naudzubillah.

Mengapa kita perlu melakukan sesuatu dengan pertimbangan Tuhan?

Karena kita bisa membohongi manusia. Tapi tak bisa membohongi Tuhan.
Karena kita bisa bersembunyi dari manusia. Tapi tak bisa bersembunyi dari Tuhan.
Karena kita bisa lari sejauh-jauhnya dari hukum manusia. Tapi tak bisa lari dari hukum Tuhan.
Dan karena kita semua akan kembali kepadaNya. Dan akan menghadapi pengadilanNya yang Maha Adil.

Melakukan sesuatu tanpa mempedulikan pendapat Tuhan, akan menimbulkan kerusakan di muka bumi. Apakah para koruptor mempertimbangkan tindakannya dengan pandanganTuhan, saat mencuri uang rakyat? Apakah perusak hutan, mempertimbangkan pendapat Tuhan, yang justru telah menunjuk manusia sebagai khalifah di bumi? Apakah para pezina mempertimbangkan pendapat Tuhan yang telah menciptakan manusia lebih tinggi derajatnya dari hewan? Namun, manusia sering kali menyamakan derajatnya dengan binatang. Astaghfirullah.

Yah. Kita semua musti bertindak dengan terlebih dahulu memikirkan apakah tindakan kita bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain? Apakah tindakan kita akan membawa kebaikan bagi kita, di dunia dan di akhirat?

Jika sudah demikian, maka terbuktilah cinta kita kepada Tuhan. Kepada Allah SWT. Seperti yang di sebutkan pada lirik lagu yang berjudul “Sayang Padaku” di atas. Tak peduli dengan segala perih, sakit hati, penderitaan, keterasingan dari dunia, ketidakadilan oleh manusia. Yang penting, Tuhan jadi sayang kepada kita melalui segala ujian dan cobaan itu. Ya, karena sejatinya, musibah, ujian, cobaan itu merupakan tanda cinta Allah kepada manusia. Itu artinya Allah masih perhatian kepada kita. Jika seseorang menyerah, kalah terhadap ujian itu, dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai Tuhan, maka orang tersebut kalah, tidak naik kelas.
Dan kalau sudah saking cintanya sama Allah, maka apa kata manusia, terutama yang menjatuhkan, tak akan lagi mempengaruhi kita secara signifikan. Karena yang ditakuti Cuma pandangan Allah. Dan bukan mengikuti pandangan manusia.

Maka amatlah mencintai Allah. Coba baca lagi lirik di atas, akan seperti muncul energi yang luar biasa, yang membuat kita memandang kehidupan ini secara SEDERHANA saja.

Energi itu adalah energi cinta. Cinta yang amat sangat kepada Allah. Yang akan membuat kita ringan saja menjalani hidup yang kadang amat berat. Yang juga akan membuat kita berdiri tegap dengan wajah berseri, menatap dunia, dan tersenyum, sambil berkata “ Hai dunia, kau tak akan mampu membuatku menyerah kepadamu”.

Senin, 08 November 2010

(Ternyata) Ini Bukan Semata Masalah Cantik

Saya baru saja menghadiri sebuah acara yang dihadiri oleh banyak orang termasuk pejabat pemerintah kota Jogjakarta. Sejenak saya mengamati orang-orag yang datang. Lelaki,perempuan. Tua,muda. Hitam, putih, coklat, kemerahan. Benar-benar beragam. Tapi kemudian saya terpikir untuk lebih banyak mengamati wanitanya.

Kadang kita (para wanita) merasa perlu memeperbaiki penampilan. Yaa, jangan sampai tabaruj (berlebihan), tapi paling tidak rapi lah. Bagaimana pun naluri wanita pasti ingin tampil "cantik", at least baik lah secara penampilan.Begitu pun saya. Karenanya, wanita sering kali jadi korban industri kosmetik.Sekarang yang menggelitik pikiran saya adalah bagaimana definisi cantik itu?

Semua orang bisa jadi punya definisi masing-masing tentang cantik. Begitupun saya. Bagi saya cantik itu cerdas,smart,punya karakter, sholihah, menjaga diri. Ya, bisa dibilang innerbeuty. Wanita yang cantik adalah yang bisa bersyukur kepada Tuhannya, seperti apa pun wujud muka dan tubuhnya. Wanita cantik itu adalah wanita yang bisa menjaga dirinya dari lelaki-lelaki yang bukan mahramnya. Wanita cantik itu adalah wanita yang tidak hanya mengandalkan kecantikan lahiriahnya saja, tapi juga cara berpikirnya. Wanita cantik itu cerdas.

Tapi lagi-lagi, tak bisa dipungkiri, bahwa media dan dunia ini telah meng-generalisasi-kan definisi cantik kepada semua wanita di dunia. Boneka Barbie, Kontes Ratu Sejagad, Kontes kecantikan, Iklan Kosmetik, dsb. telah membuat satu definisi cantik yang seragam: putih, tinggi, langsing, proporsional, rambut panjang, kaki panjang, kulit mulus. Lalu semua wanita berlomba menjadi demikian. Dengan berbagai motivasi tentunya. Dan salah satunya tentu untuk menarik perhatian lawan jenis.

Ketika saya mengamati wanita-wanita di sekeliling saya, pada acara yang saya hadiri kali ini, saya menemukan banyak sekali wanita "cantik". Cantik dalam hal penampilan. Ya. Dengan busana warna warni, jilbab warna warni, riasan warna warni. Semua cantik. Meskipun kata orang cantik itu relatif. Dan mungkin karena relatif inilah, nyatanya semua wanita, baik yang masuk kategori cantik ala masing-masing individu maupun cantik ala media, bisa menemukan lelaki pasangan hidupnya. Yup, jodoh.

Hahaha...jadi mau ngomongin masalah jodoh? Hehehe...
Tapi serius, saya benar-benar memikirkannya kala itu. Artinya jodoh itu benar-benar misteri Allah. Jodoh tidak bisa dihitung dengan matematika (apalagi fisika). Tidak bisa diprediksi dengan pasti.Cuma, jodoh punya rumus sendiri yang diformulasikan langsung oleh Allah bahwa wanita baik-baik adalah untuk lelaki yang baik pula (Q.S. An Nur: 26).

Jodoh adalah misteri. Seperti halnya mati dan rezeki. Namun, semua itu wajib diusahakan dengan maksimal. Jodoh adalah misteri, yang hanya Allah saja yang tau. Dan ini semakin diperkuat dengan pengamatan saya tadi. Wanita yang kita anggap jelek secara fisik, tetap saja bisa mendapatkan suami yang cakep. Atau sebaliknya. Jadi, sayapun berpikir, kenapa harus repot dengan apakah kita "cantik" atau tidak? mengapa kita (wanita) harus ribet dandan menor cuma untuk menarik perhatian lawan jenis, toh nantinya kita akan tetap mendapatkan jodoh kita, walaupun gak dandan.

Haha...jangan tersinggung dulu para wanita yang budiman. Bahwasanya itu semua adalah bentuk ikhtiyar alias usaha, that's okey. Pada akhirnya poin yang ingin saya sampaikan adalah, jodoh itu bukan semata perkara kecantikan fisik. Tapi ia adalah misteri Ilahi, yang patut kita usahakan, tanpa menyiksa diri, tanpa merubah kita -para wanita- menjadi orang lain, tanpa melanggar aturan dan norma-norma agama maupun norma di masyarakat.

Jodoh itu bukan di cari. Ia telah di sediakan Allah untuk kita. Jodoh cuma perlu dijemput...
Dan sekali lagi jodoh itu memang benar-benar misteri Allah.

We are beautifull
no matter what they say
words can't bring us down..

(Beautifull by Christina Aguilera)

Kamis, 04 November 2010

PEMUDA DAN IDEALISME... sebuah catatan kegelisahan_

Sumpah pemuda tahun ini memang sudah berlalu. Pada saat itu saya benar benar memikirkan pemuda bangsa ini. visualisasi pemuda daerah saya juga berkelebat di pikiran.

Di awal bulan oktober, saya menemui sekumpulan pelajar smp yang sedang berbincang tentang hari besar apa yang ada di bulan ini. masing-masing mereka lupa tanggal 28 oktober itu hari apa. Saya Cuma terseyum miris dan segera mengoreksi bahwa ada hari sumpah pemuda tanggal 28 oktober itu.

O iya ya. Itu komentar mereka.

Sebenarnya bukan masalah perayaan hari besar nasional atau sekedar upacara peringatannya. Namun, ini masalah kesadaran pemuda kita akan sejarah bangsa, yang mustinya memunculkan semangat perjuangan yang disesuaikan dengan masanya.
Kemudian beberapa stasiun televise swasta ramai-ramai mengangkat tema sumpah pemuda dalam liputan beritanya. Ada juga yang mengadakan survey seberapa hafalkah para pemuda dan pelajar akan teks sumpah pemuda. Dan, hasilnya seperti yang sudah diduga sejak awal bahwa banyak pemuda kita yang tidak hafal.
Lagi-lagi, ini bukan masalah hafal atau tidak nya para pemuda akan teks sumpah pemuda. Bukan pula masalah pemahaman kontekstual dari hasil kongres sumpah pemuda tahun 1928. Namun, ini masalah sejauh apa pemuda kita memahami esensi dari sumpah pemuda dan semangat apa atau pesan apa yang ingin disampaikan pemuda-pemuda peserta kongres kala itu.

Mengapa punya idealisme?

Hanya pemuda yang punya idealisme, yang bisa membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukannya. Tidak dipungkiri lagi bahwa, pemuda menjadi agent of change, akan menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Dan mereka yang menggenggam peradaban bukanlah pemuda ecek-ecek yang suka ikut-ikutan, ikut aliran arus, tidak punya prinsip, suka menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Mereka yang memimpin dunia adalah pemuda pemuda yang punya idealism.
Bukanlah pemuda biasa, yang mengikuti kongres pemuda kedua pada tahun 1928. Mereka adalah perwakilan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua panitianya adalah Soegondo Djojopuspito dari PPPI atau Persatuan Pelajar Pelajar Indonesia. Ada yang menarik disini, perwakilan pelajar memimpin sebuah kongres yang akan dikenang sepanjang masa oleh republik ini. saya Cuma bisa mengelus dada saat membayangkan pelajar kita sekarang.

Bagaimana dengan pelajar kita?

Mereka masih suka terkotak-kotak dalam geng atau fanatisme dangkal. Kadang yang membuat mereka tidak bersatu hanya karena beda merek mobil atau motornya. Embarrassing. Pemuda kita masih suka sok sokan memamerkan kekayaan orang tua mereka, membentuk kesenjangan social. Suka nongkrong nongkrong ga jelas di mall. Tawuran. Suka bermesraan dengan seseorang yang tidak jelas statusnya secara hukum (baca = pacar), di depan umum. Bangga dengan kesalahan mereka. Pakai narkoba dibilang keren. Kalo gak ngrokok dicap banci. Rajin sholat dikatai sok alim (mending, daripada sok jahat). Nyontek sudah jadi kebiasaan. Menghina guru atau orang tua dibilang berkuasa.

Ah, bangsa macam apa ini? Orang tua, keenakkan di atas jabatan, sedang yang muda sedikit sekali yang bisa diharapkan.

Bagaimana mungkin pelajar yang suka ngerokok dibilang punya idealism? Terhadap kesehatan mereka saja mereka tak punya idealisme. Bagaimana tukang nyontek bisa dibilang punya idealism? Terhadap diri mereka sendiri saja mereka tak bisa percaya. Bagaimana pemuda yang suka nongkrong ga jelas di mall bisa dibilang punya idealisme? Terhadap waktu mereka sendiri saja, mereka tak bisa gunakan dengan baik. Bagaimana pemuda yang jadi korban mode atau korban tren bisa dibilang punya idealisme? Mereka saja tak punya style sendiri yang bisa membuat mereka bermartabat dan berkarakter.

Itu mungkin hal-hal kecil yang sering luput dari pengamatan kita. Itu mungkin hal-hal yang sudah biasa kita maklumkan atas gejolak kawula muda. Namun, jika ini dibiarkan, kita tak akan bangkit. Apa harus menunggu sampai mereka tua, sehingga mereka punya prinsip dan pendirian sendiri, punya idealisme? Tidak. Pemuda musti punya idealisme sejak sekarang.

Pemuda yang punya idelisme lah yang menumbangkan pemerintahan Soekarno pada tahun 1966. Pemuda beridealisme pula yang menggulingkan rezim orde baru. Dan di seluruh belahan dunia, pemuda yang punya idealisme-lah yang akan menggenggam dunia. Yang membuat sejarah.

Idealisme macam apa?

Idealisme pemuda. Ya. Idealisme khas pemuda.
Pemuda itu cenderung bersih dari berbagai kepentingan. Pemuda cenderung gelisah melihat ketidakadilan, ketidakbenaran. Pemuda itu cenderung “keras kepala”, keukeuh menggenggam apa yang di anggapnya benar. Pemuda itu punya curiosity atau rasa keingintahuan yang tinggi. Pemuda itu cenderung punya semangat menuntut ilmu yang besar. Dan,itulah idealisme khas pemuda.

Pemuda itu harus punya karakter yang kuat. Dan sinyal ini nampaknya di baca oleh Kemenpora yang mengangkat tema pembangunan pemuda yang berkarakter, pada sumpah pemuda 2010.

Pada akhirnya, benar pula kata orang, yang menyatakan bahwa karakter pemuda di bentuk oleh zaman saat dia dilahirkan. Pemuda-pemuda penggagas kongres pemuda 1928 jelas lebih punya idealisme tentang kemerdekaan. Sebab mereka lahir pada masa penjajahan. Masa sulit. Jiwa pemuda mereka terpanggil untuk berontak. Begitu pula pemuda-pemuda dan anak-anak di Palestina. Mereka terlahir pada masa perang. Jelas jiwa pembebasan pemuda mereka terasah dan bangkit membentuk karakter mereka yang tangguh, mandiri, dan tidak takut mati demi kebenaran.

Beda halnya dengan pemuda Indonesia masa kini. Mereka terlahir pada masa yang serba enak. Masa serba aman. Dan masa serba nyaman. Tidak ada ancaman imperialisme. Akses informasi yang begitu kilat. Serta berbagai teknologi yang sudah berkembang hebat, yang ternyata punya dampak negative, membuat mereka cendcerung malas. Selain itu, pemuda kita juga cenderung kekanak-kanakan, manja, dan tidak mandiri. Maka dengan menanamkan idealisme pemuda sejak dini, pemuda kita akan menjadi pemuda berkarakter yang akan siap membangun bangsa dan negara ini di masa yang akan datang.

Tugas siapa?

Berbagai pihak tentunya harus ikut andil dalam membentuk pemuda yang punya idealisme ini. sekolah atau perguruan tinggi, sistem pendidikan yang mantab dan mengikutsertakan pendidikan kepribadian kepada pelajar dan mahasiswa. Lingkungan rumah dan sekolah yang mendukung. LSM atau NGO kepemudaan sebagai support system. Dan yang paling penting adalah KELUARGA atau ORANG TUA, yang punya peran paling besar membentuk putra-putrinya menjadi pemuda beridealisme, pemuda berkarakter. Penanaman nilai-nilai mulia yang berawal dari keluarga, kasih sayang, pendidikan kedisiplinan dan kepemimpinan yang efektif, serta sistem pengawasan yang baik, akan sangat menunjang pembentukan karakter pemuda.

Bangkitlah pemuda pemudi Indonesia!!!!