Sumpah pemuda tahun ini memang sudah berlalu. Pada saat itu saya benar benar memikirkan pemuda bangsa ini. visualisasi pemuda daerah saya juga berkelebat di pikiran.
Di awal bulan oktober, saya menemui sekumpulan pelajar smp yang sedang berbincang tentang hari besar apa yang ada di bulan ini. masing-masing mereka lupa tanggal 28 oktober itu hari apa. Saya Cuma terseyum miris dan segera mengoreksi bahwa ada hari sumpah pemuda tanggal 28 oktober itu.
O iya ya. Itu komentar mereka.
Sebenarnya bukan masalah perayaan hari besar nasional atau sekedar upacara peringatannya. Namun, ini masalah kesadaran pemuda kita akan sejarah bangsa, yang mustinya memunculkan semangat perjuangan yang disesuaikan dengan masanya.
Kemudian beberapa stasiun televise swasta ramai-ramai mengangkat tema sumpah pemuda dalam liputan beritanya. Ada juga yang mengadakan survey seberapa hafalkah para pemuda dan pelajar akan teks sumpah pemuda. Dan, hasilnya seperti yang sudah diduga sejak awal bahwa banyak pemuda kita yang tidak hafal.
Lagi-lagi, ini bukan masalah hafal atau tidak nya para pemuda akan teks sumpah pemuda. Bukan pula masalah pemahaman kontekstual dari hasil kongres sumpah pemuda tahun 1928. Namun, ini masalah sejauh apa pemuda kita memahami esensi dari sumpah pemuda dan semangat apa atau pesan apa yang ingin disampaikan pemuda-pemuda peserta kongres kala itu.
Mengapa punya idealisme?
Hanya pemuda yang punya idealisme, yang bisa membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukannya. Tidak dipungkiri lagi bahwa, pemuda menjadi agent of change, akan menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Dan mereka yang menggenggam peradaban bukanlah pemuda ecek-ecek yang suka ikut-ikutan, ikut aliran arus, tidak punya prinsip, suka menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Mereka yang memimpin dunia adalah pemuda pemuda yang punya idealism.
Bukanlah pemuda biasa, yang mengikuti kongres pemuda kedua pada tahun 1928. Mereka adalah perwakilan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua panitianya adalah Soegondo Djojopuspito dari PPPI atau Persatuan Pelajar Pelajar Indonesia. Ada yang menarik disini, perwakilan pelajar memimpin sebuah kongres yang akan dikenang sepanjang masa oleh republik ini. saya Cuma bisa mengelus dada saat membayangkan pelajar kita sekarang.
Bagaimana dengan pelajar kita?
Mereka masih suka terkotak-kotak dalam geng atau fanatisme dangkal. Kadang yang membuat mereka tidak bersatu hanya karena beda merek mobil atau motornya. Embarrassing. Pemuda kita masih suka sok sokan memamerkan kekayaan orang tua mereka, membentuk kesenjangan social. Suka nongkrong nongkrong ga jelas di mall. Tawuran. Suka bermesraan dengan seseorang yang tidak jelas statusnya secara hukum (baca = pacar), di depan umum. Bangga dengan kesalahan mereka. Pakai narkoba dibilang keren. Kalo gak ngrokok dicap banci. Rajin sholat dikatai sok alim (mending, daripada sok jahat). Nyontek sudah jadi kebiasaan. Menghina guru atau orang tua dibilang berkuasa.
Ah, bangsa macam apa ini? Orang tua, keenakkan di atas jabatan, sedang yang muda sedikit sekali yang bisa diharapkan.
Bagaimana mungkin pelajar yang suka ngerokok dibilang punya idealism? Terhadap kesehatan mereka saja mereka tak punya idealisme. Bagaimana tukang nyontek bisa dibilang punya idealism? Terhadap diri mereka sendiri saja mereka tak bisa percaya. Bagaimana pemuda yang suka nongkrong ga jelas di mall bisa dibilang punya idealisme? Terhadap waktu mereka sendiri saja, mereka tak bisa gunakan dengan baik. Bagaimana pemuda yang jadi korban mode atau korban tren bisa dibilang punya idealisme? Mereka saja tak punya style sendiri yang bisa membuat mereka bermartabat dan berkarakter.
Itu mungkin hal-hal kecil yang sering luput dari pengamatan kita. Itu mungkin hal-hal yang sudah biasa kita maklumkan atas gejolak kawula muda. Namun, jika ini dibiarkan, kita tak akan bangkit. Apa harus menunggu sampai mereka tua, sehingga mereka punya prinsip dan pendirian sendiri, punya idealisme? Tidak. Pemuda musti punya idealisme sejak sekarang.
Pemuda yang punya idelisme lah yang menumbangkan pemerintahan Soekarno pada tahun 1966. Pemuda beridealisme pula yang menggulingkan rezim orde baru. Dan di seluruh belahan dunia, pemuda yang punya idealisme-lah yang akan menggenggam dunia. Yang membuat sejarah.
Idealisme macam apa?
Idealisme pemuda. Ya. Idealisme khas pemuda.
Pemuda itu cenderung bersih dari berbagai kepentingan. Pemuda cenderung gelisah melihat ketidakadilan, ketidakbenaran. Pemuda itu cenderung “keras kepala”, keukeuh menggenggam apa yang di anggapnya benar. Pemuda itu punya curiosity atau rasa keingintahuan yang tinggi. Pemuda itu cenderung punya semangat menuntut ilmu yang besar. Dan,itulah idealisme khas pemuda.
Pemuda itu harus punya karakter yang kuat. Dan sinyal ini nampaknya di baca oleh Kemenpora yang mengangkat tema pembangunan pemuda yang berkarakter, pada sumpah pemuda 2010.
Pada akhirnya, benar pula kata orang, yang menyatakan bahwa karakter pemuda di bentuk oleh zaman saat dia dilahirkan. Pemuda-pemuda penggagas kongres pemuda 1928 jelas lebih punya idealisme tentang kemerdekaan. Sebab mereka lahir pada masa penjajahan. Masa sulit. Jiwa pemuda mereka terpanggil untuk berontak. Begitu pula pemuda-pemuda dan anak-anak di Palestina. Mereka terlahir pada masa perang. Jelas jiwa pembebasan pemuda mereka terasah dan bangkit membentuk karakter mereka yang tangguh, mandiri, dan tidak takut mati demi kebenaran.
Beda halnya dengan pemuda Indonesia masa kini. Mereka terlahir pada masa yang serba enak. Masa serba aman. Dan masa serba nyaman. Tidak ada ancaman imperialisme. Akses informasi yang begitu kilat. Serta berbagai teknologi yang sudah berkembang hebat, yang ternyata punya dampak negative, membuat mereka cendcerung malas. Selain itu, pemuda kita juga cenderung kekanak-kanakan, manja, dan tidak mandiri. Maka dengan menanamkan idealisme pemuda sejak dini, pemuda kita akan menjadi pemuda berkarakter yang akan siap membangun bangsa dan negara ini di masa yang akan datang.
Tugas siapa?
Berbagai pihak tentunya harus ikut andil dalam membentuk pemuda yang punya idealisme ini. sekolah atau perguruan tinggi, sistem pendidikan yang mantab dan mengikutsertakan pendidikan kepribadian kepada pelajar dan mahasiswa. Lingkungan rumah dan sekolah yang mendukung. LSM atau NGO kepemudaan sebagai support system. Dan yang paling penting adalah KELUARGA atau ORANG TUA, yang punya peran paling besar membentuk putra-putrinya menjadi pemuda beridealisme, pemuda berkarakter. Penanaman nilai-nilai mulia yang berawal dari keluarga, kasih sayang, pendidikan kedisiplinan dan kepemimpinan yang efektif, serta sistem pengawasan yang baik, akan sangat menunjang pembentukan karakter pemuda.
Bangkitlah pemuda pemudi Indonesia!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar